Denpasar (ANTARA) - Umat Hindu di Bali terpantau masih meramaikan Pura Agung Jagatnatha Denpasar pada malam hari di Hari Raya Galungan.
“Sejak tadi pagi itu sudah banyak masyarakat datang untuk bersembahyang, tapi ini dari jam 8 malam ke atas memang biasa lebih banyak lagi datang untuk sembahyang,” kata Pemangku sekaligus Pemimpin Pura Agung Jagatnatha Denpasar Ida Bagus Saskara di Denpasar, Rabu.
Tuaji Mangku, panggilan akrabnya, menyampaikan seperti biasa Umat Hindu akan datang ke pura yang berperan sebagai Kahyangan Jagat itu setelah menyelesaikan persembahyangan di berbagai pura lainnya.
Bagi masyarakat yang memang tinggal di Kota Denpasar atau tidak banyak bersembahyang keliling maka akan datang ke Pura Agung Jagatnatha di siang hari.
Sementara bagi yang memiliki banyak pura keluarga atau harus pulang ke kampung halaman, maka akan datang di malam hari.
“Di Hari Raya Galungan masyarakat sebelum datang ke Pura Agung Jagatnatha mereka biasanya di rumah pribadi dulu melakukan persembahyang memuja para leluhur, kemudian menuju pura kawitan (pusat pemujaan leluhur), lalu ke Pura Kahyangan Tiga (tempat suci wajib di desa adat), setelah itu baru ke Jagatnatha sebagai Pura Kahyangan Jagat,” ujarnya.
“Tapi ada juga yang setelah dari Pura Kahyangan Tiga pulang kampung dulu mungkin sekitaran Gianyar, Klungkung, atau Tabanan, nah biasanya mereka kembali lagi sore hari karena besok harus beraktivitas kembali sehingga malam ini baru melakukan persembahyangan di Pura Agung Jagatnatha, jadi keliling dulu,” sambung Tuaji Mangku.
Pemimpin pura itu mengatakan suasana malam juga sering dibarengi dengan kehadiran remaja dan anak-anak yang berkeliling melakukan tradisi Ngelawang atau pertunjukan Barong Bangkung, sehingga kawasan pura tak pernah sepi.
Remaja dan anak-anak menampilkan tradisi Ngelawang di depan Pura Agung Jagatnatha Denpasar saat malam Hari Raya Galungan di Denpasar, Rabu (17/6/2026). (ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari)“Ini ada seribuan orang hadir, biasanya mungkin jam 12 malam baru berangsur berkurang pemedeknya,” ucapnya.
Menurut dia, antusias Umat Hindu sendiri sesuai dengan pemaknaan Hari Raya Galungan yang menjadi momentum perayaan kemenangan kebaikan atau dharma melawan adharma.
Pura pura yang didatangi Umat Hindu pun tak sembarang, semuanya sesuai dengan sumber sastra Lontar Sundarigama yang dibuat oleh Ida Betara Danghyang Nirartha.
“Momen Hari Raya Galungan ini sangat baik sekali kita untuk memuja para leluhur sebagai pendahulu kita, di sana memohon kerahayuan, kerahajeng-an, kerukunan, keharmonisan kepada para leluhur, kemudian baru kita berdoa di pura pura yang statusnya lebih besar lagi, seperti ini Pura Kahyangan Jagat, agar kita diberi kerahayuan di jagat ini dalam melaksanakan kehidupan,” tuturnya.
Di Hari Raya Galungan ini sendiri sebanyak tiga pemangku atau pemuka agama bergantian memimpin persembahyangan, diantaranya Tuaji Mangku Ida Bagus Saskara, Jro Mangku Pande Nyoman Dharma, dan Jro Mangku Nyoman Sudarma.
Salah satu pemedek yang hadir bernama Nyoman Ayu Trisna (26) mengatakan setiap Hari Raya Galungan ia terbiasa bersembahyang di malam hari.
Selain karena baru menyelesaikan persembahyangan di pura pura lain, waktu malam membuatnya lebih tenang dan bisa berkumpul dengan teman-teman sebayanya setelah seharian bersama keluarga.
“Memang ke Jagatnatha selalu malam karena pagi sampai siang sama keluarga, sore istirahat, malam sembahyang lagi khusus sama teman-teman banjar, jadi tidak kejar-kejaran, pulangnya juga bisa sekalian makan bersama,” tuturnya.
Baca juga: Makna dan rangkaian Hari Raya Galungan yang diperingati umat Hindu
Baca juga: Pedagang sarana "banten" di Singaraja ramai pesanan jelang Galungan
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·