Singapura memberikan peringatan keras kepada negara-negara di kawasan Asia Tenggara agar tidak terjebak dalam paradigma keliru mengenai kedaulatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Konsep kedaulatan tersebut sering kali disalahartikan sebagai keharusan untuk menguasai dan memiliki seluruh komponen teknologi secara mandiri, mulai dari infrastruktur hingga aplikasi final.
Menteri Komunikasi dan Informasi Singapura, Josephine Teo, menyatakan bahwa kecenderungan negara-negara untuk memproduksi sendiri model AI, pusat data, chip, hingga basis data secara masif justru berisiko memicu inefisiensi. Pendekatan proteksionis dan isolatif dalam ekosistem digital ini dinilai dapat menguras anggaran publik secara signifikan.
Fenomena ini mengemuka seiring dengan meningkatnya ambisi sejumlah negara di Asia Tenggara untuk membangun kedaulatan digital (sovereign AI). Banyak negara kini berkompetisi mendirikan pusat data lokal, merancang model bahasa besar atau large language model (LLM), serta meningkatkan kapasitas komputasi demi mereduksi ketergantungan pada korporasi teknologi asing, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.
“Terkadang, diskusi mengenai kedaulatan AI berubah menjadi gagasan bahwa sebuah negara harus membangun atau memiliki seluruh bagian ekosistem AI secara penuh, mulai dari model, data hingga aplikasinya. Pemikiran seperti itu, meskipun dapat dipahami, tidak realistis dan mungkin tidak terlalu bermanfaat bagi many negara,” kata Josephine pada sebuah acara di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Investasi untuk membangun seluruh rantai nilai AI dari hulu ke hilir membutuhkan dana yang sangat besar. Josephine mengingatkan bahwa sebagian besar negara anggota ASEAN saat ini masih menghadapi tantangan domestik yang mendesak dan memerlukan alokasi anggaran yang tidak kalah besar, seperti sektor layanan kesehatan, pendidikan, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang terus meningkat.
Kendati demikian, kawasan Asia Tenggara tetap memiliki potensi strategis yang masif untuk bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan AI global. Keunggulan komparatif ini didorong oleh struktur demografi yang didominasi populasi usia muda, penetrasi ekonomi digital yang agresif, serta gelombang investasi yang mengalir ke infrastruktur digital dan pusat data.
“Kekuatan Asia tidak pernah datang dari keseragaman. Kekuatan itu selalu berasal dari kemampuan kita untuk bekerja bersama meskipun berbeda. Selama Asia Tenggara terus bergerak maju bersama, kita dapat mencapai lebih banyak,” sebutnya.
Negara-negara ASEAN diimbau untuk mengalihkan fokus dari ambisi kepemilikan mutlak atas teknologi AI menuju penguatan kapabilitas dalam mengadopsi, memanfaatkan, dan mengendalikan teknologi tersebut demi kemaslahatan publik dan pertumbuhan ekonomi domestik.
Terdapat tiga pilar prioritas yang harus didahulukan oleh negara-negara di kawasan. Pertama adalah peningkatan kapasitas negara dalam mengimplementasikan AI untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat secara langsung. Kedua yakni ketajaman dalam menentukan pilihan strategis terkait kemitraan teknologi dan investasi yang tepat sasaran.
Pilar ketiga yang tidak kalah krusial adalah pembentukan ekosistem AI domestik yang integratif. Langkah ini dapat diakselerasi dengan memperkuat institusi riset, membangun komunitas pengembang lokal, melibatkan pelaku usaha secara aktif, serta mengoptimalkan standarisasi pengembangan talenta digital nasional.
4 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·