Tekanan terhadap ekonomi perang Rusia akan ditingkatkan oleh para pemimpin Kelompok Tujuh atau G7 melalui pengetatan sanksi di sektor minyak dan gas. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat pertahanan militer Ukraina di tengah dinamika geopolitik global terbaru, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Rabu (17/06).
Kesepakatan tersebut mencakup komitmen bersama untuk mempercepat pengiriman bantuan militer ke Kyiv. Fokus utama bantuan diarahkan pada peningkatan sistem pertahanan udara dan pasokan pencegat rudal.
Para pemimpin negara G7 merilis pernyataan resmi mengenai arah kebijakan luar negeri mereka ini.
"Untuk mendukung dan mempercepat momentum baru ini, kami sepakat meningkatkan pengiriman kemampuan pertahanan udara, sistem tambahan dan pencegat, serta kemampuan jarak jauh," bunyi pernyataan tersebut.
Blok G7 menilai situasi saat ini merupakan momentum krusial untuk mengambil tindakan lebih tegas. Keputusan ini juga didorong oleh perkembangan politik terbaru di kawasan Timur Tengah.
"Kami menilai ini momen yang tepat untuk mengambil langkah tambahan, setelah Presiden AS Donald Trump mencapai kesepakatan yang kami dukung untuk membuka kembali Selat Hormuz," lanjut pernyataan itu.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen memberikan pandangannya mengenai perkembangan situasi di medan perang. Menurutnya, peta kekuatan saat ini telah mengalami perubahan signifikan dibandingkan dengan periode sebelumnya.
"Situasi pada 2026 sangat berbanding terbalik dengan 2025. Ukraina bertahan dengan berani di garis depan, sementara Rusia mulai terlihat kelelahan," ujar Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa.
Di sisi lain, dinamika kebijakan luar negeri Amerika Serikat turut memengaruhi jalannya perundingan. Presiden AS Donald Trump menyampaikan pandangan mengenai dampak langsung konflik tersebut terhadap negaranya.
"Tidak berdampak pada kami, selain kami menjual senjata ke Ukraina," kata Trump, Presiden AS.
Ia juga menilai posisi geografis menjadi salah satu faktor yang membuat konflik tersebut terasa jauh dari publik Amerika Serikat.
"Kami berada ribuan kilometer jauhnya," kata Trump.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·