Konflik AS&Iran Picu Risiko Stagflasi dan Tekan Ekonomi Global

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung lebih dari dua bulan hingga Senin (4/5/2026) memicu lonjakan harga minyak mentah di atas US$110 per barel. Kondisi geopolitik ini meningkatkan risiko stagflasi global dan menjadi perhatian utama para pelaku pasar dalam mencermati stabilitas ekonomi ke depan.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, ketegangan ini memengaruhi ekspektasi inflasi serta menekan prospek pertumbuhan ekonomi di berbagai kawasan. Investor kini mengamati kemungkinan serangan lanjutan dari Amerika Serikat, kelancaran produksi minyak, hingga akses pelayaran di Selat Hormuz yang sangat krusial bagi pasokan energi dunia.

Di pasar domestik, perhatian tertuju pada rilis data kinerja APBN serta konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang sempat tertunda pekan lalu. Ketidakpastian jadwal ini sempat memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar mengenai transparansi akses data keuangan negara kepada publik.

Data ekonomi makro Indonesia diperkirakan mengalami pergerakan signifikan akibat tekanan global. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diproyeksikan tumbuh 5,2% secara tahunan, menunjukkan perlambatan dibandingkan capaian kuartal sebelumnya yang berada di angka 5,39%.

Penurunan pertumbuhan ekonomi ini dipicu oleh sikap hati-hati masyarakat dalam konsumsi rumah tangga dan investasi akibat risiko kenaikan biaya hidup. Meskipun demikian, kenaikan harga komoditas dan pemberian subsidi pemerintah dinilai masih mampu menopang struktur ekonomi nasional dari dampak negatif perang.

Inflasi tahunan Indonesia diprediksi melandai ke level 3,26% dari sebelumnya 3,48%, yang berarti masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 2,5% hingga 3,5%. Namun, pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga energi global diprediksi akan kembali menekan harga-harga mulai Mei mendatang.

Pemerintah menggunakan instrumen subsidi untuk meredam dampak kenaikan harga minyak terhadap masyarakat luas. Akan tetapi, ketahanan cadangan anggaran negara menjadi tantangan tersendiri jika harga energi terus melambung dalam jangka waktu yang lebih lama.

Sejumlah agenda ekonomi penting juga dijadwalkan berlangsung pekan ini, termasuk rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) dari beberapa negara Asia dan laporan tenaga kerja nonfarm payrolls di Amerika Serikat. Selain itu, kawasan Asia Tenggara akan memulai rangkaian acara ASEAN Summit yang berpusat di Cebu mulai Jumat mendatang.