Panglima Angkatan Darat Uganda, Muhoozi Kainerugaba, memicu insiden diplomatik serius pada Sabtu (10/4/2026) setelah mengeluarkan ultimatum kepada Turki. Ia menuntut pembayaran sebesar 1 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp15,9 triliun, dan permintaan khusus untuk "wanita tercantik" di Turki.
Anak dari Presiden Yoweri Museveni tersebut mengancam akan memutuskan hubungan diplomatik jika tuntutannya tidak dipenuhi. Serangkaian unggahan kontroversial di platform X telah dihapus, namun cepat menyebar dan menjadi viral.
Menurut Kainerugaba, pembayaran tersebut seharusnya menjadi "dividen keamanan" bagi peran militer Uganda di Somalia. Pasukan Uganda telah terlibat dalam misi Uni Afrika melawan kelompok militan Al-Shabab selama hampir dua dekade.
"Selain 1 miliar dolar dari Turki, saya menginginkan wanita tercantik di negara itu untuk menjadi istri!" tulis Kainerugaba dalam unggahan yang kini telah dihapus tersebut.
Ia juga memberi tenggat waktu 30 hari bagi Turki untuk memenuhi persyaratannya. Jika tidak, Kainerugaba mengancam penutupan kedutaan besar Turki di Kampala dan pembatasan operasional Turkish Airlines.
"Bagi Turki ini adalah kesepakatan yang sangat sederhana... Mereka membayar kita atau saya menutup kedutaan mereka di sini," kata Kainerugaba. Ia menambahkan, "Jika Turki tidak mengatasi masalah kita, kita akan memutuskan hubungan diplomatik dalam 30 hari."
Kainerugaba menuduh Ankara telah mengambil keuntungan dari kesepakatan infrastruktur dan operasional di Mogadishu. Sementara itu, Uganda menanggung beban keamanan dalam memerangi militan selama hampir dua dekade.
Ia menggambarkan hubungan bilateral sebagai "serius" dan menyarankan warga Uganda untuk menghindari perjalanan ke Turki "demi keselamatan Anda sendiri." Jenderal tersebut juga menyatakan dukungan untuk Israel dalam unggahan yang sama.
Ini bukan kali pertama pernyataan publik Kainerugaba menarik perhatian dunia. Pada tahun 2022, ia pernah menawarkan 100 ekor sapi Ankole kepada Italia dengan imbalan menikahi Perdana Menteri Giorgia Meloni.
Ancamannya untuk merebut Roma jika lamaran ditolak kala itu, memicu permintaan maaf dari Presiden Museveni. Sang ayah mengkritik putranya karena mencampuri urusan negara lain.
Pada tahun yang sama, Kainerugaba juga mengancam tindakan militer terhadap Kenya. Pernyataan tersebut menyebabkan pemecatan sementara dari jabatannya dan permintaan maaf resmi dari pemerintah Uganda.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari otoritas Turki maupun Somalia terkait pernyataan terbaru Kainerugaba. Pejabat Uganda juga belum mengklarifikasi apakah pernyataan tersebut mencerminkan kebijakan resmi pemerintah atau hanya pandangan pribadi Kainerugaba.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·