IHSG Menguat ke Level 6.209 pada Awal Pekan

Sedang Trending 16 jam yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju di zona hijau pada awal perdagangan Senin (22/6/2026) dengan mencatatkan kenaikan sebesar 32,122 poin atau 0,52 persen ke level 6.209,262 pada pukul 09.26 WIB. Penguatan bursa domestik ini dipicu oleh kombinasi sentimen kebijakan suku bunga dari bank sentral global maupun dalam negeri, seperti dilansir dari Money.

Sebelumnya, pada perdagangan Jumat (19/6/2026), indeks saham tanah air ditutup pada area 6.177 yang menandakan kenaikan 2,82 persen dalam sepekan. Kendati pasar modal bergerak positif, investor asing justru masih terus membukukan aksi jual bersih atau outflow dengan nilai mencapai Rp 4,5 triliun di pasar reguler.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menjelaskan bahwa pergerakan positif bursa domestik ditopang oleh respons pasar terhadap kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed yang tetap menahan suku bunga acuan. Menurut analisisnya, bertahannya tingkat suku bunga AS di level tertinggi dalam dua dekade bukan lagi tanda kehati-hatian, melainkan sinyal sulitnya meredam laju inflasi.

“Kebijakan menahan ini bukan lagi cerminan dari strategi yang penuh kehati-hatian, melainkan sebuah pengakuan tersirat bahwa inflasi jauh lebih bebal dan sulit ditaklukkan daripada yang mereka perkirakan semula,” ujar David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas.

Situasi global tersebut membawa ketidakpastian bagi negara-negara berkembang karena harus menghadapi tantangan era suku bunga tinggi yang lebih lama atau higher for longer. Dari dalam negeri, dinamika pasar turut dipengaruhi oleh Bank Indonesia yang secara agresif menaikkan BI-Rate menjadi 5,75 persen hingga melampaui proyeksi konsensus pasar.

Langkah pre-emptive dari Bank Indonesia ini langsung memicu penyesuaian harga instrumen saham dan obligasi secara instan di pasar keuangan nasional. Kebijakan moneter ketat tersebut diambil untuk mengantisipasi risiko stabilitas makroekonomi global serta tekanan nilai tukar rupiah yang diprediksi membesar.

“Melalui langkah ini, otoritas moneter memprioritaskan stabilitas eksternal dan pengendalian inflasi, meskipun harus memitigasi risiko perlambatan pada momentum pertumbuhan ekonomi domestik dalam jangka pendek,” papar David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas.

Untuk periode perdagangan 22-26 Juni 2026, pelaku pasar juga diminta mencermati laporan Global Market Accessibility Review dari MSCI yang menurunkan status indikator Information Flow Indonesia menjadi negatif akibat isu transparansi free float dan indikasi perdagangan terkoordinasi.

“Skenario terburuk mengenai potensi penurunan kasta (downgrade) menjadi Frontier Market sempat membayangi bursa. Namun, mayoritas dari 18 kriteria aksesibilitas lainnya yang tetap terjaga memberikan fondasi bagi pasar untuk merawat optimisme aset-aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia yang memperoleh sentimen positif,” tukar David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas.

Menghadapi pergerakan pasar pekan ini, IPOT merilis sejumlah rekomendasi teknikal untuk para pelaku pasar modal. Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) disarankan dengan strategi buy on breakout pada area masuk 17.475, target harga 19.000, dan stop loss di 16.600 karena posisinya yang bergerak di atas MA5 dan MA20.

Selanjutnya, saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) direkomendasikan dengan strategi buy on breakout di area masuk 15.200, target harga 1.630, serta batas stop loss 1.470 setelah konsisten bertahan di atas MA5. Untuk saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA), strategi yang disarankan adalah buy on pullback pada kisaran 358-362 dengan target harga 400 dan stop loss di 340 didukung indikator MACD yang menunjukkan kecenderungan bullish.

Selain instrumen ekuitas, instrumen pendapatan tetap seperti obligasi negara seri PBS038 juga dinilai prospektif untuk dikoleksi. Ketika yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun Indonesia berada di angka 7,07 persen, seri PBS038 ini menawarkan kupon tahunan sebesar 6,87 persen dengan yield yang menyentuh 7,17 persen.