Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan Kamis (4/6/2026) siang. Tekanan jual yang meluas di berbagai sektor membuat indeks merosot mendekati angka 4 persen dan kembali bergerak ke level psikologis 5.700, seperti dikutip dari Money.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 11.08 WIB menunjukkan IHSG melemah 230,64 poin atau setara 3,88 persen ke posisi 5.710,43. Pada pembukaan perdagangan, indeks sebenarnya sempat berada di level 5.919,57 sebelum akhirnya tertekan hingga menyentuh titik terendah 5.644,23.
Aktivitas perdagangan di lantai bursa berlangsung sangat padat dengan volume transaksi mencapai 18,50 militar saham. Total nilai transaksi tercatat sebesar Rp 11,04 triliun yang merangkum 1,166 juta kali frekuensi perdagangan.
Pergerakan saham didominasi oleh tren melemah, di mana 736 saham terkoreksi dan hanya 50 saham yang mencatatkan penguatan. Sementara itu, 173 saham lainnya tidak bergerak atau stagnan, sehingga membuat kapitalisasi pasar Bursa menyusut ke angka Rp 10.036 triliun.
Kondisi ini diikuti oleh pelemahan di seluruh indeks utama BEI, termasuk LQ45 yang turun 3,37 persen ke level 569,13 dan IDX30 yang melemah 3,27 persen ke posisi 322,94. Indeks KOMPAS100 juga terkoreksi sebesar 3,92 persen menuju level 754,59.
Sektor saham berbasis syariah mencatatkan penurunan yang lebih dalam pada siang ini. Jakarta Islamic Index (JII) merosot 4,14 persen ke level 339,78, diikuti indeks ISSI yang melemah 3,86 persen ke level 198,04, serta JII70 yang turun 4,18 persen menjadi 134,33.
Di sisi lain, BEI juga merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) pada Kamis (2/4/2026). Langkah publikasi ini diambil otoritas bursa guna meningkatkan aspek transparansi bagi para investor di pasar modal.
Penurunan indeks terjadi merata di seluruh sektor dengan dipimpin oleh sektor barang baku yang anjlok hingga 6,71 persen. Sektor properti dan real estat menyusul di posisi berikutnya dengan pelemahan sebesar 5,81 persen.
Sektor perindustrian juga terkoreksi signifikan sebesar 4,94 persen, disusul sektor infrastruktur yang turun 4,74 persen, serta sektor transportasi dan logistik melemah 4,62 persen. Sektor energi dan keuangan masing-masing turun 4,09 persen dan 3,67 persen.
Selanjutnya, sektor barang konsumen primer mengalami penurunan 3,35 persen, barang konsumen non-primer terkoreksi 3,31 persen, dan sektor kesehatan melemah 3,20 persen. Sektor teknologi menjadi bidang dengan pelemahan paling minimal, yaitu sebesar 1,90 persen.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata berpendapat bahwa koreksi pasar saham domestik dipicu oleh kecemasan pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi negara. Menurutnya, pemodal internasional kini menyoroti aspek kredibilitas Indonesia.
"Menurut kami, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia," ujar Liza.
Liza menggarisbawahi posisi nilai tukar rupiah yang mendekati angka Rp 18.000 per dollar AS serta aksi jual bersih investor asing. Sepanjang tahun berjalan, nilai penjualan bersih (net sell) oleh investor asing telah menembus Rp 66,20 triliun.
Terdapat lima faktor utama yang dinilai membayangi pergerakan pasar saat ini. Faktor tersebut meliputi outlook negatif lembaga pemeringkat, depresiasi rupiah, capital outflow, penurunan jumlah kelas menengah, hingga risiko komunikasi kebijakan.
Meski begitu, situasi saat ini dinilai belum masuk dalam tahapan structural de-rating karena sebagian risiko masih bersifat potensi. Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada agenda MSCI Global Market Accessibility Review, FTSE Rebalancing, dan MSCI Annual Market Classification Review.
"Setelah Moody's dan Fitch, FTSE dan MSCI berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi kredibilitas pasar modal Indonesia," kata Liza.
Liza melihat bahwa investor global cenderung membatasi eksposur mereka secara spesifik pada pasar Indonesia saja. Kondisi ini bukan berarti modal asing sedang keluar dari seluruh kawasan negara berkembang atau emerging markets.
Tekanan di pasar domestik diperparah oleh kondisi rupiah yang sempat menyentuh salah satu level terlemahnya di angka Rp 18.000 per dollar AS. Sentimen dari luar negeri turut memengaruhi psikologis investor di dalam negeri.
Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus menyebutkan pasar Asia dibayangi kekhawatiran tarif baru Amerika Serikat. Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran juga ikut memicu sikap hati-hati investor.
Faktor internal lain yang memengaruhi pasar adalah penurunan surplus neraca perdagangan April dan kenaikan inflasi tahunan menjadi 3,08 persen pada Mei 2026. Ada pula sentimen dari outlook negatif Moody's terhadap PT Danantara Investment Management (DIM).
Respons Pemerintah Terkait Dinamika Pasar
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengimbau agar para pelaku pasar tidak merespons pergerakan IHSG secara berlebihan. Pemerintah menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi nasional masih berada dalam posisi yang kokoh.
"Jangan takut, fundamental ekonomi bagus. Ini mungkin ada ketakutan orang jangka pendek saja. Fondasi ekonomi bagus, enggak ada masalah. Pendapatan pajak di Mei aja masih kenceng begitu," kata Purbaya.
Purbaya menerangkan bahwa tingkat konsumsi domestik serta mobilitas masyarakat yang tinggi menjadi bukti aktivitas ekonomi masih berjalan baik. Daya beli masyarakat dinilai masih kuat untuk menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
Menteri Keuangan optimistis pergerakan indeks saham akan kembali berbalik menguat karena topangan fondasi ekonomi yang kuat.
"Saya yakin akan naik lagi karena fondasi ekonomi bagus," ujar Purbaya.
Pemerintah menyatakan akan terus memantau situasi demi menjaga sentimen positif di pasar modal dan membangun kepercayaan investor.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·