General Manager Microsoft Israel, Alon Haimovich resmi dicopot dari posisinya akibat skandal penyalahgunaan komputasi awan (cloud) untuk memata-matai warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Seperti diberitakan oleh Detik iNET, Haimovich yang telah menduduki jabatan tersebut selama empat tahun kini harus melepaskan posisinya, sementara manajemen Microsoft Israel diambil alih sementara oleh Microsoft Prancis.
Krisis internal ini mencuat setelah laporan dari The Guardian dan +972 Magazine membongkar keterlibatan badan intelijen Israel dalam memanfaatkan server Microsoft untuk melakukan pengawasan massal terhadap jalur komunikasi masyarakat Palestina.
Pemanfaatan infrastruktur digital ini bermula dari kesepakatan pada tahun 2021 antara CEO Microsoft Satya Nadella dan Komandan Unit 8200 Israel, Yossi Sariel. Akses terhadap ekosistem teknologi tersebut kemudian diperluas oleh Unit 8200 setelah Peristiwa 7 Oktober 2023.
Investigasi dari The Guardian menyingkap bahwa militer Israel secara rahasia menghimpun basis data panggilan telepon warga Palestina di server Azure milik Microsoft yang berlokasi di Eropa. Saat informasi tersebut tersebar luas, sistem penyimpanan awan ini dilaporkan telah merekam jutaan percakapan telepon warga.
Presiden Microsoft Brad Smith mengungkapkan bahwa pemeriksaan internal perusahaan membenarkan temuan tersebut, di mana Kementerian Pertahanan Israel memakai infrastruktur Azure di Belanda beserta layanan kecerdasan buatan (AI). Menyikapi hal ini, pihak Microsoft menyatakan telah memutus akses penyimpanan cloud untuk unit di dalam kementerian tersebut.
Hingga Juli 2025, volume data militer Israel yang tersimpan di pusat data Azure Belanda dan Irlandia mencapai lebih dari 1.500 TB, yang setara dengan 200 juta jam rekaman audio. Sistem yang berjalan sejak 2022 ini memiliki kemampuan memproses dan menyimpan rekaman hingga 1 juta panggilan telepon per jam milik warga Palestina.
Sejumlah dokumen internal mengindikasikan adanya kolaborasi erat antara karyawan Microsoft dan kontraktor militer Israel untuk menyusun arsitektur keamanan khusus. Kerja sama ini melahirkan infrastruktur Azure yang terisolasi dan didedikasikan khusus bagi keperluan militer sensitif Israel.
Informasi dari internal Unit 8200 menyebutkan platform tersebut diintegrasikan untuk menyusun target serangan udara serta operasi militer di Gaza dan Tepi Barat. Algoritma dari data di infrastruktur Microsoft ini menjadi motor penggerak bagi alat penarget berbasis AI bernama Gospel dan Lavender.
Di dalam tubuh Microsoft sendiri, penolakan telah muncul melalui gerakan 'No Azure for Apartheid' karena kecemasan etis terkait pelibatan teknologi dalam kejahatan perang. Namun, aspirasi karyawan tersebut sempat diredam dan beberapa di antaranya berujung pada pemecatan.
Langkah tegas memutus akses Unit 8200 akhirnya diambil setelah tekanan publik menguat di luar perusahaan. Praktik ini juga memicu indikasi pelanggaran hukum lantaran server di Uni Eropa digunakan oleh pemerintah asing untuk mengumpulkan data intelijen dalam operasi perang.
Melalui hasil evaluasi internal, manajemen pusat Microsoft mengakui adanya kegagalan tata kelola serta transparansi yang berujung pada rusaknya kredibilitas hubungan antara kantor pusat dan cabang mereka di Israel.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·