Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul menargetkan sebanyak 114.000 warga mengikuti Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) pada 2026 sebagai bagian dari implementasi program kesehatan masyarakat nasional.
Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono mengatakan capaian PKG sejak awal tahun hingga 10 Juni 2026 tercatat 38.840 orang.
"Baru sekitar 10,81 persen dari target keseluruhan," kata Ismono, di Yogyakarta, Rabu.
Menurut dia, capaian tersebut masih jauh dari target 2026 yang ditetapkan yakni sekitar 114.000 orang atau 40 persen dari total sasaran sebanyak 359.171 orang.
Ismono mengakui capaian PKG pada tahun sebelumnya juga belum memenuhi target yang telah ditentukan.
"Pada 2025, sejak Februari hingga 31 Desember, jumlah peserta PKG mencapai 88.096 orang dari target 310.770 orang atau sekitar 28,3 persen," jelasnya.
Baca juga: IDAI dukung tindak lanjut program skrining hepatitis
Untuk meningkatkan capaian program, Dinkes Gunungkidul akan melakukan sejumlah upaya guna memperluas pelaksanaan PKG agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
"Kami aktif melakukan jemput bola di kalurahan, kapanewon, kegiatan kelompok pengajian, dan berbagai acara tertentu," kata Ismono.
Selain itu, pihaknya berencana mengintegrasikan layanan PKG dengan program pelayanan penyakit kronis serta pelayanan pasien rawat jalan.
"Langkah ini dilakukan untuk mendukung pencapaian visi dan misi Bupati Gunungkidul serta prioritas program warga sehat," ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat kini dapat mengakses layanan PKG di 30 puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah Gunungkidul.
"Seluruh puskesmas di Gunungkidul sudah dapat melayani PKG," kata Ismono.
Meski demikian, ia mengungkapkan masih terdapat sejumlah kendala dalam pelaksanaan PKG di lapangan, salah satunya rendahnya kesadaran masyarakat untuk datang ke puskesmas guna menjalani pemeriksaan kesehatan.
Baca juga: Prabowo perluas CKG dan perkuat penanganan TBC nasional
"Kesadaran masyarakat untuk datang ke puskesmas khusus melakukan PKG masih kurang karena ada yang takut mengetahui kondisi penyakitnya," katanya.
Selain itu, keterbatasan tenaga kesehatan, sarana dan prasarana, termasuk ruang pelayanan serta Bahan Medis Habis Pakai (BMHP), juga menjadi tantangan dalam pelaksanaan program tersebut.
"Rata-rata jumlah dokter hanya dua orang, sedangkan perawat terbatas sekitar lima hingga enam orang," kata Ismono.
Menurut dia, jumlah tersebut masih kurang apabila dibandingkan dengan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan di puskesmas yang mencapai 75 hingga 150 orang per hari.
"Ketika ada kegiatan jemput bola, sumber daya manusia (SDM) menjadi terbatas karena jumlah pasien di puskesmas cukup banyak," ujarnya.
Ismono mengatakan keterbatasan BMHP yang paling dirasakan adalah bahan yang digunakan untuk pemeriksaan laboratorium cepat.
"BMHP untuk pemeriksaan kolesterol, asam urat, dan gula darah masih kurang," kata Ismono.
Baca juga: Dinkes Bantul menargetkan 460 ribu warga mengikuti PKG tahun ini
Pewarta: Agung Dwi Prakoso
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·