Badan Meteorologi, Climatalogi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan pembaruan mengenai prakiraan cuaca penerbangan di wilayah udara Indonesia. Laporan berkala ini menyoroti potensi sebaran pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat memengaruhi keamanan jalur udara.
Seperti dilansir dari Kompas, data prediksi ini berlaku untuk memetakan ruang udara nasional selama satu pekan ke depan. Masa pemantauan atmosfer terjadwal mulai tanggal 19 Juni 2026 sampai dengan 25 Juni 2026.
Penyusunan produk prakiraan ini memanfaatkan model cuaca numerik yang komprehensif. Langkah tersebut diambil oleh otoritas cuaca nasional guna memberikan dukungan penuh terhadap keselamatan operasional penerbangan di seluruh wilayah Indonesia.
Dalam keterangan resminya, lembaga meteorologi ini membagi persentase cakupan spasial maksimum dari awan Cumulonimbus ke dalam tiga kategori utama. Masing-masing tingkatan divisualisasikan melalui indikator warna khusus, yaitu biru muda, ungu, dan hijau.
Kategori pertama dinamakan Isolated CB (ISOL) yang merepresentasikan cakupan wilayah di bawah 50 persen. Tingkat kedua adalah Occasional CB (OCNL) dengan area cakupan yang berada di rentang rentang 50 hingga 75 persen.
Kategori tertinggi, yaitu Frequent CB (FRQ), menandakan akumulasi spasial yang sangat padat karena areanya melebihi 75 persen. Berdasarkan hasil pemodelan atmosfer teranyar untuk rentang waktu tersebut, ada dua wilayah yang masuk dalam status Frequent (FRQ).
Dua kawasan yang memiliki kepadatan awan di atas 75 persen tersebut meliputi wilayah Provinsi Riau dan Selat Karimata bagian utara. Pilot dan maskapai penerbangan diminta meningkatkan kewaspadaan saat melewati jalur udara di area ini.
Sementara itu, wilayah dengan status Occasional (OCNL) yang memiliki cakupan 50 hingga 75 persen terdeteksi lebih luas. Potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus ini tersebar di dataran, perairan, selat, hingga kawasan samudra terbuka.
Daftar Wilayah Kategori Kepadatan 50-75 Persen
Daftar wilayah daratan atau provinsi yang masuk dalam kategori cakupan spasial maksimum OCNL meliputi Aceh, Bengkulu, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Kondisi serupa juga berpotensi terjadi di Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Lampung, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Tengah, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.
Untuk sektor perairan, potensi kemunculan awan ini diprediksi mencakup Laut Arafuru bagian tengah, Laut Banda, Laut Jawa bagian barat, Laut Natuna Utara, Laut Seram, Laut Sulawesi bagian barat, Selat Karimata bagian selatan, dan Selat Karimata bagian utara.
Jalur laut lain yang perlu diwaspadai adalah Selat Makassar bagian tengah, Selat Malaka bagian tengah, Selat Malaka bagian utara, serta wilayah Teluk Bone yang berpotensi memicu turbulensi udara.
Area samudra juga tidak luput dari pantauan, mencakup Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Bengkulu, Samudra Hindia barat Kep. Mentawai, Samudra Hindia barat Kep. Nias, Samudra Hindia barat Lampung, Samudra Hindia selatan Banten, Samudra Hindia selatan Jawa Barat, dan Samudra Hindia selatan Jawa Tengah.
Kondisi ini diprediksi meluas hingga Samudra Hindia selatan NTT, Samudra Pasifik utara Maluku, Samudra Pasifik utara Papua, serta kawasan Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya.
Pihak berwenang mengingatkan bahwa seluruh data sebaran potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus ini diproduksi secara berkala. Dokumen ini menjadi acuan resmi selama tujuh hari ke depan di seluruh ruang udara hukum Indonesia.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·