BEI Catat 15 Perusahaan Antre IPO hingga 10 April 2026

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan bahwa sebanyak 15 perusahaan tercatat dalam daftar antrean untuk melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) hingga tanggal 10 April 2026. Data ini menunjukkan dinamika pasar modal yang cukup aktif di awal tahun.

Dari total 15 perusahaan tersebut, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menjelaskan bahwa 11 di antaranya termasuk dalam kategori beraset besar, yakni di atas Rp 250 miliar. Sementara itu, empat perusahaan sisanya memiliki aset skala menengah, berkisar antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.

Antrean IPO saat ini didominasi oleh sektor healthcare dengan empat perusahaan, diikuti oleh sektor consumer non-cyclicals sebanyak tiga perusahaan. Sektor-sektor lainnya yang juga turut mengantre termasuk consumer cyclicals, infrastructures, technology, energy, dan financials.

Nyoman, seperti dikutip dari Detik Finance, memaparkan, "Hingga saat ini, terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI." Pernyataan ini menegaskan jumlah perusahaan yang siap melantai di bursa.

Hingga 10 April 2026, BEI baru mencatat satu perusahaan yang berhasil melantai melalui IPO, yaitu PT BSA Logistic Tbk (WBSA). Perusahaan ini resmi mencatatkan sahamnya pada Jumat, 10 April, dan berhasil menghimpun dana sebesar Rp 0,30 triliun.

"Sampai dengan 10 April 2026 telah tercatat 1 Perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia dengan dana dihimpun Rp 0,30 triliun," jelas Nyoman mengenai kinerja IPO di periode tersebut.

Selain IPO, BEI juga mencatat aktivitas yang signifikan di pasar obligasi dan sukuk. Sebanyak 50 emisi Obligasi dan Sukuk, atau yang dikenal sebagai Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS), telah diterbitkan oleh 33 penerbit.

Total dana yang berhasil dihimpun dari penerbitan EBUS ini mencapai angka Rp 55,20 triliun, menunjukkan kepercayaan investor terhadap instrumen utang.

Nyoman menambahkan bahwa saat ini masih ada 40 emisi dari 28 penerbit EBUS yang berada dalam pipeline penerbitan. Sektor financials menjadi yang terbanyak dengan 14 perusahaan, disusul infrastructures tujuh perusahaan, energy tiga perusahaan, serta basic materials dan consumer non-cyclicals masing-masing dua perusahaan.

"Sampai dengan 10 April 2026 terdapat 40 emisi dari 28 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline," pungkas Nyoman, memberikan gambaran lengkap tentang aktivitas di pasar modal Indonesia.