Banyak CEO Terjebak AI Psychosis, Gelombang PHK Massal Industri Teknologi Kian Mengkhawatirkan

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Tren pemutusan hubungan kerja atau PHK massal di sektor teknologi terus meluas secara global. Banyak jajaran pemimpin perusahaan kerap menjadikan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai alasan utama di balik efisiensi tersebut.

Kondisi ini memicu kekhawatiran baru mengenai fenomena bernama "AI psychosis". Istilah ini merujuk pada situasi ketika para petinggi perusahaan memiliki kepercayaan diri yang berlebihan terhadap kemampuan AI, namun mengabaikan batasan serta risiko fatal teknologi tersebut.

Pendiri perusahaan cloud Box, Aaron Levie, menjadi salah satu tokoh industri yang menyoroti fenomena ini secara terbuka. Menurut analisisnya, para CEO sangat mudah terjebak dalam delusi AI karena mereka tidak bersentuhan langsung dengan operasional teknis harian.

"Mereka mencoba AI, membuat prototipe, lalu langsung berkesimpulan bahwa teknologi ini bisa menggantikan sebagian besar tenaga kerja," kata Aaron Levie.

Para pemimpin tersebut dinilai tidak pernah merasakan rumitnya memeriksa baris kode, mencari bug, atau memastikan sistem berjalan tanpa kesalahan sebelum resmi diluncurkan.

Optimisme yang kurang berdasar dari para eksekutif ini telah memberikan dampak nyata yang masif. Seperti dikutip dari Tekno berdasarkan data TechCrunch, industri teknologi telah memberhentikan sebanyak 115.430 pekerja dari 152 perusahaan hanya dalam periode lima bulan pertama tahun 2026.

Angka pemangkasan ini hampir menyamai keseluruhan total PHK sepanjang tahun 2025 yang tercatat mencapai 124.636 orang. Mayoritas korporasi secara terang-terangan menunjuk AI sebagai pendorong utama pengurangan staf tersebut.

Langkah ekstrem diambil oleh CEO ClickUp, Zeb Evans, yang mengumumkan pengurangan 22 persen tenaga kerjanya. Keputusan ini diambil setelah perusahaannya mengimplementasikan sekitar 3.000 agen AI untuk keperluan internal.

Zeb Evans berargumen bahwa kebijakan ini bukan sekadar pemotongan biaya operasional. Ia berambisi membentuk konsep "100x org", sebuah struktur organisasi yang menempatkan manusia hanya sebagai pengawas dan peninjau dari hasil kerja sistem AI.

Riset Ilmiah Menolak Klaim Produktivitas AI

Kualitas Agen AI Belum Setara Manusia

Optimisme berlebih dari para petinggi perusahaan ternyata bertolak belakang dengan data ilmiah. Meta-analisis yang dirilis oleh California Management Review dari UC Berkeley menegaskan tidak ada korelasi kuat antara penerapan AI dengan lonjakan produktivitas perusahaan secara menyeluruh.

Penelitian dari MIT memperkuat temuan ini dengan menyatakan bahwa agen AI belum sanggup merampungkan pekerjaan dengan kualitas yang setara dengan kemampuan manusia di berbagai sektor.

Para ahli memproyeksikan bahwa AI baru dapat menyelesaikan mayoritas tugas berbasis teks dengan tingkat keberhasilan 80 hingga 95 persen pada tahun 2029. Target itu pun baru memenuhi standar kualitas paling minimal, sehingga perlu waktu bertahun-tahun lagi untuk benar-benar mengungguli manusia.

Potensi Kekacauan di Level Manajemen

Riset dari Harvard Business Review memaparkan tantangan lain yang lebih kompleks dalam struktur korporasi. Ketika seluruh staf memanfaatkan AI untuk melipatgandakan hasil kerja, beban kerja justru akan berpindah ke tingkat eksekutif.

Para manajer dan direktur dituntut untuk menyetujui serta memeriksa setiap output yang dihasilkan dalam jumlah besar. Jika tidak dikelola lewat sistem yang matang, penumpukan tugas ini berpotensi menimbulkan kekacauan besar di dalam internal organisasi.

Aaron Levie menekankan bahwa dirinya bukan merupakan penentang inovasi kecerdasan buatan. Tokoh yang memiliki 2,7 juta pengikut di media sosial X ini dikenal aktif mengucurkan investasi ke berbagai startup AI serta sering membagikan pandangan positif.

Kendati demikian, ia mengingatkan jajaran direksi untuk mengeksplorasi teknologi ini secara mendalam dan serius. Para pemimpin perusahaan dituntut memahami kapabilitas sekaligus limitasi AI secara utuh agar dapat melahirkan keputusan bisnis yang bijak serta bertanggung jawab.