Padang (ANTARA) - Universitas Andalas (UNAND) Sumatera Barat (Sumbar) melakukan kajian tentang sistem pertanian tradisional Minangkabau yang disebut parak dan merupakan kearifan lokal masyarakat setempat untuk dipadukan dengan konsep pertanian cerdas iklim.
"Kearifan lokal Minangkabau berupa sistem parak memiliki potensi besar untuk menjadi model adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang berkelanjutan," kata peneliti dari Fakultas Pertanian UNAND Yulinda di Padang, Sabtu.
Riset ini juga dilatarbelakangi meningkatnya ancaman perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, banjir, dan longsor di berbagai wilayah Sumbar. Salah satu solusi yang dilakukan perguruan tinggi tersebut yakni melakukan riset lewat pengembangan agroforestri cerdas iklim di Hutan Nagari Salibutan, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.
Ia mengatakan hutan Nagari Salibutan merupakan kawasan penting penyangga lingkungan di daerah aliran Sungai Batang Anai. Hutan ini berperan sebagai daerah tangkapan air yang menopang kehidupan masyarakat di wilayah hilir. Namun, perubahan pola curah hujan, meningkatnya suhu udara serta tingginya risiko bencana hidrometeorologi menjadikan kawasan tersebut rentan terhadap degradasi lingkungan.
"UNAND tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga mendorong penerapan hasil riset secara langsung bersama masyarakat," ujar dia.
Ia mengatakan pendekatan yang dilakukan dalam riset tersebut menunjukkan kearifan lokal bisa menjadi bagian penting dari solusi global menghadapi perubahan iklim. Dalam praktiknya, masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) mengembangkan pola agroforestri berlapis.
Pohon-pohon seperti asam kandis, durian, manggis, petai, dan pinang dipertahankan sebagai pelindung utama kawasan hutan sekaligus penyerap karbon. Pada lapisan berikutnya ditanam kakao, sedangkan tanaman rempah seperti jahe, kunyit dan serai tumbuh di lantai hutan sebagai sumber pendapatan tambahan masyarakat.
Hasil penelitian UNAND menunjukkan model yang dilakukan menjawab tiga tujuan utama pertanian cerdas Iklim yakni meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani melalui diversifikasi usaha, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim, serta berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca.
"Selain memberikan manfaat ekologis, sistem agroforestri juga membuka peluang ekonomi baru termasuk potensi pengembangan perdagangan karbon berbasis masyarakat yang saat ini mulai menjadi perhatian dunia," kata dia.
Baca juga: Peneliti Unand kembangkan riset pengolahan air limbah
Baca juga: UNAND teliti potensi tanaman lokal untuk obat diabetes dan hipertensi
Baca juga: Pakar Unand: Perlu upaya ilmiah jaga kelestarian ayam kokok balenggek
Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
11 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·