Jakarta -
Sedikit kesalahan saja bisa menyebabkan efek yang fatal. Seperti penjual hot dog yang salah tagih pelanggannya hingga Rp65 juta!
Kemudahan pembayaran digital memang bikin aktivitas jajan jadi lebih praktis. Transaksi pembayaran bisa langsung selesai tanpa perlu repot menghitung uang tunai atau menunggu kembalian.
Namun di balik kecepatan itu, ada celah kesalahan yang bisa berujung fatal jika tidak teliti. Salah satunya seperti yang terjadi pada seorang pelanggan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Stomp, (22/4/2026), seorang TikToker di Singapura membagikan kejadian merugikan yang dialaminya. Insiden ini berawal ketika ia membeli hot dog dari sebuah kedai.
Seorang wanita mengungkapkan dirinya rugi gegara penjual yang salah memasukkan nominal harga makanan. Foto: Stomp
Saat itu hot dog yang dibelinya seharga 1,50 Dolar Singapura atau setara dengan Rp20 ribuan saja. Ia memilih melakukan pembayaran digital dengan metode payWave atau sekadar menempelkan ponselnya pada mesin tap yang disediakan.
Tetapi biaya yang terpotong pada rekeningnya justru menunjukkan 4.801,50 Dolar Singapura. Jumlah ini setara dengan Rp65 juta yang artinya ia ditagih biaya ratusan kali lebih daripada yang seharusnya.
Dalam videonya, ia menjelaskan bahwa penjual sempat menyadari adanya kesalahan setelah transaksi terjadi. Awalnya, ia mengira hanya ada kelebihan satu angka nol dalam nominal pembayaran.
Namun ternyata jumlah yang dimasukkan jauh lebih besar dari harga seharusnya, sehingga membuat situasi menjadi panik. TikToker tersebut juga menggambarkan reaksi penjual yang disebutnya mengalami "lima tahap kepanikan", mulai dari terkejut hingga kebingungan.
Ia yang harusnya membayar Rp20 ribuan merugi hingga Rp65 juta. Foto: Stomp
Alih-alih memberikan solusi, penjual sempat menyalahkan dirinya karena tidak memeriksa nominal terlebih dahulu. Bahkan limit kartu kredit yang tinggi, disebut penjual juga menjadi salah satu kesalahan tersebut bisa terjadi.
Masalah menjadi semakin rumit ketika ia mencoba menghubungi pihak bank atau penyedia kartu kredit. Ia menemukan bahwa proses pengembalian dana tidak bisa dilakukan langsung oleh bank, melainkan harus melalui pihak merchant atau penjual.
Hal ini membuatnya khawatir, terutama soal kemungkinan pengembalian dalam bentuk kredit toko, bukan uang tunai. Ia bahkan sempat bercanda bahwa jika uangnya dikembalikan dalam bentuk kredit, ia mungkin harus membeli roti terus-menerus untuk menghabiskan saldo tersebut.
Setelah dibagikan pada media sosial, situasi panik ini rupanya ditanggapi dengan jenaka oleh sebagian netizen. Ada yang ikut khawatir tetapi ada juga yang merasa dirinya takkan pernah mengalami hal tersebut.
"Jika itu terjadi kepadaku, jelas pembayarannya akan gagal. Saldonya tidak cukup," ujar salah satu netizen.
(dfl/adr)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·