Rel Tua yang Tetap Bergerak: Sumbar Jadi Simpul Penting dalam Peta Besar Konektivitas Kereta Api Sumatra

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Sumatera Barat menjadi salah satu wilayah penting dalam perjalanan panjang perkeretaapian di Pulau Sumatra. Tidak hanya menyimpan warisan sejarah tambang batu bara Ombilin dan jalur rel kolonial, provinsi ini juga terus menunjukkan peran strategisnya dalam melayani mobilitas masyarakat, mendukung distribusi barang, serta membuka akses menuju kawasan wisata dan pusat pertumbuhan ekonomi.

Di tengah dorongan pemerintah untuk memperkuat jaringan kereta api yang terhubung dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung, Sumatera Barat hadir sebagai salah satu daerah yang memiliki modal kuat berupa sejarah panjang, aset prasarana yang luas, serta layanan kereta api yang masih aktif dan terus berkembang.

Dari Tambang Ombilin hingga Mobilitas Modern

Sejarah perkeretaapian Sumatera Barat bermula pada akhir abad ke-19 ketika jalur rel dibangun untuk menghubungkan kawasan tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto dengan Pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur di Padang. Stasiun Padang mulai dibangun pada 1889, disusul pengembangan jaringan menuju Kayu Tanam, Padang Panjang, Solok, Sawahlunto, Pariaman hingga Naras.

Jalur-jalur tersebut melintasi bentang alam yang menantang berupa perbukitan, lembah, dan tanjakan curam. Dari lintas inilah lahir lokomotif uap bergerigi Mak Itam yang hingga kini menjadi ikon sejarah perkeretaapian Sawahlunto.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan Sumatera Barat memiliki posisi yang sangat khas dalam sejarah perkeretaapian nasional karena sejak awal rel dibangun untuk menghubungkan kawasan tambang, pelabuhan, kota, dan masyarakat.

“Sumatera Barat menunjukkan bagaimana kereta api sejak awal menjadi penghubung ekonomi, kota, pelabuhan, dan masyarakat. Jejak itu tetap relevan untuk membaca kebutuhan konektivitas Sumatra hari ini,” ujar Anne.

Saat ini Divre II Sumatera Barat mengelola jaringan rel sepanjang sekitar 312,2 kilometer. Dari total tersebut, sekitar 110,9 kilometer masih aktif beroperasi, sedangkan lebih dari 201 kilometer lainnya berstatus nonaktif. Infrastruktur tersebut didukung oleh 20 stasiun dan shelter penumpang serta empat stasiun angkutan barang.

Penumpang Terus Tumbuh, Kereta Semakin Diminati

Layanan kereta api di Sumatera Barat saat ini meliputi KA Pariaman Ekspres, KA Minangkabau Ekspres, KA Lembah Anai, serta KA wisata Mak Itam. Selain melayani perjalanan masyarakat sehari-hari, layanan tersebut juga mendukung akses menuju Bandara Internasional Minangkabau dan destinasi wisata unggulan.

Selama Januari hingga Mei 2026, kereta api penumpang di wilayah Divre II Sumatera Barat melayani 913.674 pelanggan. Sementara untuk angkutan barang, KAI mengangkut 492.220 ton semen dan klinker yang mendukung kelancaran distribusi industri di daerah tersebut.

Dalam lima tahun terakhir, minat masyarakat terhadap transportasi berbasis rel juga terus meningkat. Jumlah pelanggan naik dari sekitar 1,09 juta pada 2021 menjadi hampir 1,98 juta pelanggan pada 2025 atau tumbuh sekitar 81 persen.

KA Pariaman Ekspres menjadi tulang punggung layanan dengan jumlah pelanggan mencapai 1,6 juta orang sepanjang 2025. Sementara KA Lembah Anai juga mencatat peningkatan signifikan setelah dilakukan penyesuaian relasi perjalanan.

Menurut Anne, keberhasilan layanan kereta api di Sumatera Barat tidak lepas dari kedekatannya dengan kebutuhan masyarakat.

“Kereta api di Sumatera Barat dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia melayani perjalanan harian, akses bandara, wisata, sekaligus mendukung distribusi barang,” kata Anne.

Menatap Peluang Reaktivasi dan Konektivitas Sumatra

Selain melayani kebutuhan saat ini, Sumatera Barat juga memiliki peluang besar dalam pengembangan jaringan rel masa depan. Sejumlah jalur nonaktif masih menyimpan potensi untuk direaktivasi, di antaranya Naras–Sungai Limau, Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Limbanang, Muarokalaban–Sawahlunto, hingga Solok–Muarokalaban.

Salah satu lintas yang dinilai paling prospektif adalah jalur Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Payakumbuh sepanjang sekitar 67 kilometer. Jalur ini berpotensi memperkuat akses menuju kawasan wisata, pusat pendidikan, sentra ekonomi, serta mendukung distribusi logistik di wilayah Minangkabau.

Potensi tersebut semakin relevan seiring pertumbuhan sektor pariwisata Sumatera Barat. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara meningkat dari 8,4 juta perjalanan pada 2021 menjadi 20,7 juta perjalanan pada 2025. Destinasi seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang, dan Bukittinggi menjadi kawasan yang dapat diperkuat melalui konektivitas kereta api.

Dalam konteks pengembangan jaringan rel Sumatra, keberadaan jalur kereta api dinilai tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga instrumen untuk menekan biaya logistik, memperluas akses wisata, serta memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.

“Sejarah rel Sumatera Barat memberi pelajaran penting bahwa konektivitas selain sebagai jalur, juga menjadi akses, pertumbuhan wilayah, dan kesempatan yang lebih merata bagi masyarakat,” tutup Anne.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News