Mantan pesepak bola Belanda Rafael van der Vaart menyampaikan permohonan maaf secara terbuka setelah memicu gelombang kritik akibat komentar kontroversialnya mengenai pemain tim nasional Jepang dalam siaran langsung stasiun televisi NOS selama pertandingan Piala Dunia 2026.
Kejadian tersebut berlangsung ketika Van der Vaart menganalisis gol penyama kedudukan yang dicetak oleh Daichi Kamada pada menit ke-88, yang menggagalkan kemenangan Belanda setelah lini pertahanan kehilangan kendali dalam duel udara di area penalti.
Saat membahas alasan di balik kegagalan lini belakang Belanda mengawal pergerakan lawan, pria berusia 43 tahun itu melontarkan sebuah lelucon yang dinilai tidak pantas oleh banyak pihak.
"Alle Japanners zijn hetzelfde, misschien dacht hij dat wel," kata Rafael van der Vaart, Mantan Pemain Timnas Belanda.
Pernyataan tersebut langsung menyebar di media sosial dan memicu reaksi keras dari para pendukung Jepang yang menganggap komentar mantan gelandang Real Madrid dan Tottenham tersebut penuh bias serta tidak menghormati etnis tertentu.
Menanggapi tekanan publik yang terus meningkat, figur publik berusia 43 tahun itu akhirnya merilis pernyataan resmi untuk mengklarifikasi situasi dan menyampaikan penyesalannya.
"Het was natuurlijk maar een grapje. Ik begrijp dat sommige mensen zich gekwetst voelen door wat ik zei, en dat spijt me oprecht," ujar Rafael van der Vaart, Mantan Pemain Timnas Belanda.
Van der Vaart menambahkan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki niat untuk merendahkan komunitas atau basis penggemar sepak bola Jepang yang menyaksikan turnamen global tersebut.
"Als mijn opmerkingen iemand hebben beledigd, bied ik mijn excuses aan. Dat was nooit mijn bedoeling," kata Rafael van der Vaart, Mantan Pemain Timnas Belanda.
Mantan gelandang internasional itu menegaskan bahwa ia menghargai masukan dari masyarakat serta menyadari bahwa setiap ucapan di televisi nasional dapat diinterpretasikan secara berbeda oleh pemirsa.
"Ik wil benadrukken dat de opmerking absoluut niet racistisch of discriminerend bedoeld was. Hopelijk helpt deze uitleg mensen de context van de situatie beter te begrijpen," tutur Rafael van der Vaart, Mantan Pemain Timnas Belanda.
Isu ini kemudian menjadi bahan perdebatan hangat dalam program acara De Oranjezomer pada Jumat malam, di mana para analis sepak bola terpecah menjadi dua kubu dalam menyikapi tindakan Van der Vaart.
Mantan pelatih Aad de Mos memberikan pembelaan dengan menyatakan bahwa ucapan seperti itu merupakan hal biasa yang sering dilontarkan secara spontan dalam percakapan sehari-hari di ruang publik.
"Dat zeg je natuurlijk in het café. En dan zeg je ook in het koffiehuis en de sportschool tegenwoordig," ujar Aad de Mos, Mantan Pelatih.
De Mos menganggap karakter Van der Vaart mirip dengan beberapa tokoh televisi lain yang kerap berbicara berdasarkan intuisi tanpa memikirkan dampak panjang dari ucapannya.
"Hij kan dat wel zeggen. Hij is zo’n type. Dat heeft Johan Derksen ook over zich.
René van der Gijp heeft dat ook een beetje over zich. Dat is allemaal intuïtie, dat gooi je eruit. Hij denkt er niet over na.
Zo is hij als mens natuurlijk ook," kata Aad de Mos, Mantan Pelatih.
Pernyataan De Mos langsung disanggah oleh Robert Maaskant yang menilai seorang komentator harus memiliki tanggung jawab lebih besar ketika berbicara di depan jutaan pasang mata.
"Mag er wel een beetje over nadenken, Aad. Hij zit op de nationale televisie," cetus Robert Maaskant, Analis Sepak Bola.
Ketegangan meningkat saat pakar media Victor Vlam ikut campur dan membela keabsahan generalisasi visual tersebut dari sudut pandang perbedaan barat dan timur.
"Ho, ho, ho. Dat is gewoon een feit. Aziaten zien er voor mensen uit het westen er gewoon vaker hetzelfde uit.
Dat geldt ook voor Aziaten die mensen in het westen zien. Het werkt beide kanten op. Dus wat hij zei, is in zekere zin gewoon eerlijk.
Voor mij had hij zijn excuses niet hoeven aanbieden," ujar Victor Vlam, Pakar Media.
Nicky van der Gijp langsung membantah argumen Vlam secara spesifik dengan merujuk pada perbedaan fisik yang sangat jelas di antara para pemain Jepang di lapangan.
"Dat geldt voor die spelers niet. De ene had een blonde kuif, de ander is 1 meter 75, de ander is 1 meter 17. Die gasten leken echt niet op elkaar. " kata Nicky van der Gijp, Analis Sepak Bola.
Vlam mencoba meluruskan bahwa esensi dari ucapan koleganya itu memang murni sebuah candaan untuk mencairkan suasana, bukan sebuah penghinaan sistematis.
"Daarom zei hij ook dat het een grapje was, om de spot te drijven met Japanners in het algemeen," balas Victor Vlam, Pakar Media.
Sebagai penutup diskusi, Maaskant mengingatkan kembali pentingnya kehati-hatian dalam memilih kata di era modern, meskipun ia tetap menaruh rasa hormat secara pribadi kepada Van der Vaart.
"In de huidige tijdsgeest moet je daar gewoon voorzichtiger mee zijn als je op nationale televisie zit. En ik vind Rafael van der Vaart een wereldgozer," pungkas Robert Maaskant, Analis Sepak Bola.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·