PT Dirgantara Indonesia (PTDI) resmi menandatangani kontrak penjualan empat unit pesawat N219 dengan perusahaan swasta dalam negeri, PT Mitra Aviasi Perkasa (MAP), di Hanggar Aircraft Services PTDI, Bandung, Jawa Barat, pada Selasa (5/5/2026). Kesepakatan ini menjadi sejarah baru bagi industri dirgantara nasional karena merupakan kontrak perdana pesawat N219 untuk sektor komersial domestik.
Wakil Menteri Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, memberikan keterangan mengenai pencapaian strategis tersebut saat menghadiri seremoni penandatanganan nota kesepahaman. Ia menegaskan bahwa selama ini pelanggan utama produk PTDI didominasi oleh instansi negara dan militer.
"Hari ini PT Dirgantara Indonesia melakukan kontrak penjualan N219 kepada perusahaan swasta untuk penerbangan komersial swasta," kata Febrian Alphyanto Ruddyard, Wakil Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Febrian menambahkan bahwa langkah ini mencerminkan tingginya kepercayaan sektor swasta terhadap kualitas teknologi yang dikembangkan di dalam negeri. Pemerintah berkomitmen terus mendukung penetrasi produk lokal ke pasar nasional agar kedaulatan teknologi tetap terjaga.
"Tapi ini adalah (pembelian) yang pertama (oleh pihak swasta) dan menurut saya ini menjadi tonggak sejarah yang harus kita ingat karena ini berarti adanya kepercayaan pihak komersial kepada produk PTDI," ujar Febrian Alphyanto Ruddyard, Wakil Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Upaya mendorong penggunaan produk lokal ini ditujukan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi industri asing. Pesawat N219 dinilai sangat relevan dengan karakteristik geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau kecil.
"Saya rasa semangat ini harus kita tularkan juga kepada perusahaan-perusahaan lain di Indonesia. Karena pesawat ini memiliki kekhasan yang bisa mengisi kebutuhan Indonesia, khususnya untuk penerbangan di pulau-pulau terluar," imbuh Febrian Alphyanto Ruddyard, Wakil Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Keberlanjutan industri penerbangan nasional bergantung pada pemanfaatan pasar komersial yang luas. Febrian berharap agar ekosistem kedirgantaraan dapat berkembang secara mandiri tanpa bergantung penuh pada anggaran negara.
"Jangan sampai negara kita hanya menjadi pasar, sementara kemampuan kita untuk membuat industri penerbangan yang sesuai dengan konteks negara kita bisa kita lakukan dengan baik. Jangan sampai kemampuan itu hilang hanya karena tidak bisa dipakai di pasar komersial," kata Febrian Alphyanto Ruddyard, Wakil Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Febrian juga menekankan pentingnya kedaulatan teknologi melalui penggunaan komponen dalam negeri yang kuat pada unit pesawat tersebut.
”Hari ini kita menyaksikan tanda tangan bersejarah, karena hari ini PTDI melakukan kontrak penjualan N219 kepada perusahaan swasta untuk penerbangan komersial swasta. Ini bukan tanda tangan kontrak biasa, tapi kita sedang mengambil sikap bahwa kita tidak akan terus bergantung pada solusi yang tidak dirancang oleh kita sendiri. Solusi itu harus lahir dari dalam negeri, bukan dari luar negeri. Dan pesawat N219 adalah simbol dari itu semua, bukan sekadar produk tapi pernyataan kedaulatan teknologi yang dibangun oleh anak bangsa untuk menjawab kebutuhan dalam negeri dengan TKDN yang cukup kuat,” ujar Febrian Alphyanto Ruddyard, Wakil Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, menjelaskan bahwa nilai kontrak untuk empat unit pesawat konfigurasi kargo ini mencapai 36,1 juta Dollar AS. Paket pengadaan mencakup pelatihan kru, publikasi teknis, serta dukungan purna jual secara bertahap.
“Pesawat ini memang dirancang untuk penerbangan perintis, dengan kemampuan beroperasi di landasan pendek (short runway) kurang dari 1 km serta landasan tidak beraspal (unpaved runway)," kata Gita Amperiawan, Direktur Utama PTDI.
Pesawat ini memiliki keunggulan teknis khusus untuk menghadapi medan ekstrem, seperti area perbukitan dan wilayah terpencil di Indonesia. Gita memaparkan kemudahan operasional yang ditawarkan oleh pesawat karya anak bangsa ini.
"Untuk medan perbukitan, pesawat ini memiliki stall speed yang sangat rendah sehingga memudahkan manuver dan pengoperasian di medan yang sulit," kata Gita Amperiawan, Direktur Utama PTDI.
Selain ketangguhan teknis, efisiensi biaya juga menjadi fokus utama dalam perancangan N219. PTDI menjamin ketersediaan suku cadang dan perawatan berkala bagi para operator.
"Dari sisi operasional, pesawat ini juga dirancang dengan biaya operasi yang kompetitif, perawatan yang mudah, serta dukungan layanan purna jual oleh PTDI,” ujar Gita Amperiawan, Direktur Utama PTDI.
Dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 44,69 persen, proyek ini diharapkan memberikan dampak ekonomi yang luas (spillover) bagi industri pendukung lainnya di Indonesia. Gita optimis hal ini akan menggerakkan sektor pemeliharaan dan manufaktur lapis kedua.
"With TKDN 44,96 persen, ini akan luar biasa menggerakkan industri kedirgantaran nasional. Bukan hanya PTDI, namun juga spillovernya nanti akan berdampak kepada industri tier kedua, tier ketiga termasuk industri dalam hal maintenance, repair, dan overhaul di MRO," kata Gita Amperiawan, Direktur Utama PTDI.
CEO PT Mitra Aviasi Perkasa, Septo Sudiro, berharap pembelian ini menjadi pemicu bagi operator lain untuk mulai melirik produk dalam negeri. Langkah ini dianggap strategis untuk memperkuat konektivitas kargo dan logistik nasional.
"Insya Allah N219 ini akan dibeli bukan hanya oleh PT Mitra Aviasi Perkasa tapi oleh operator-operator yang lain. Jadi tujuan saya itu adalah bagaimana kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri," kata Septo Sudiro, CEO PT Mitra Aviasi Perkasa.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·