Presiden Prabowo Subianto Targetkan Inflasi Nasional Terkendali Pada 2027

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Presiden Prabowo Subianto menetapkan target angka inflasi domestik tetap terjaga pada rentang 1,5 persen sampai 3,5 persen untuk tahun 2027. Pengumuman ini disampaikan dalam pembukaan rapat paripurna DPR RI pada Rabu (20/5/2026) sebagai strategi menjaga ketahanan ekonomi dari risiko ketidakpastian global.

Penetapan sasaran kestabilan harga tersebut disampaikan kepala negara saat memaparkan dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2027. Langkah pengendalian ini ditempuh agar kondisi pasar domestik tetap kondusif sepanjang tahun depan.

"Inflasi akan kami jaga tetap pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen," ujar Prabowo saat berpidato.

Arah kebijakan fiskal dan moneter mendatang diarahkan penuh oleh pemerintah guna mempertahankan posisi angka inflasi pada koridor yang dicanangkan tersebut. Di samping kendali harga, stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi fokus utama pemerintah.

"Inflasi akan kami jaga tetap pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen," ujar Prabowo saat berpidato.

Pemerintah memproyeksikan pergerakan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada pada rentang Rp16.800 hingga Rp17.500. Menurut penjelasan kepala negara, sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi instrumen krusial dalam menahan fluktuasi mata uang terhadap dinamika global.

Struktur anggaran dalam KEM PPKF 2027 memuat rencana pendapatan negara sebesar 11,82 persen hingga 12,40 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, alokasi belanja negara didesain pada angka 13,62 persen hingga 14,80 persen dari PDB guna membiayai program-program strategis.

Manajemen pembiayaan juga ditetapkan secara cermat melalui pembatasan defisit APBN 2027 di kisaran 1,80 persen hingga 2,40 persen terhadap PDB. Pada sektor pasar keuangan, pemerintah mematok asumsi imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor 10 tahun pada angka 6,5 persen sampai 7,3 persen.

Sektor hulu energi nasional turut diadopsi ke dalam asumsi dasar dengan perkiraan harga minyak mentah Indonesia senilai 70 dolar AS hingga 95 dolar AS per barel. Target capaian lifting minyak bumi dipatok sebesar 602.000 hingga 615.000 barel per hari, sedangkan target lifting gas bumi berada pada angka 934.000 hingga 977.000 barel setara minyak bumi per hari.

Melalui kalkulasi berbagai indikator makro tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2027 diproyeksikan mampu mencapai angka 5,8 persen hingga 6,5 persen. Sasaran jangka menengah ini disiapkan pemerintah sebagai fondasi akselerasi untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029.

Pencapaian target-target makro tersebut dinilai presiden dapat diwujudkan melalui eksekusi strategi ekonomi yang tepat. Pemerintah berkomitmen menerapkan pola kebijakan fiskal yang pruden, hati-hati, serta berkelanjutan.

Sebagai data pembanding ekonomi terkini, realisasi inflasi bulanan untuk April 2026 tercatat berada di angka 0,13 persen, dilansir dari Money berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS). Pergerakan tersebut dipicu kenaikan Indeks Harga Consumer (IHK) dari posisi 110,95 pada Maret 2026 menuju angka 111,09 pada April 2026.

Akumulasi inflasi tahun kalender tercatat menyentuh angka 1,06 persen, di mana sektor transportasi menjadi motor penggerak utama lewat andil 0,12 persen dan tingkat inflasi sebesar 0,99 persen. Sebaliknya, kelompok komoditas makanan, minuman, dan tembakau justru mencatatkan deflasi sebesar 0,20 persen dengan sumbangan deflasi sebesar 0,06 persen.

Kenaikan harga minyak goreng sebesar 0,05 persen, tomat sebesar 0,03 persen, serta beras dan nasi lauk masing-masing 0,02 persen menjadi pendorong inflasi bulanan. Faktor penyeimbang laju inflasi disumbang oleh penurunan harga komoditas daging ayam ras, perhiasan emas, cabai rawit, serta telur ayam ras.

Inflasi untuk komponen inti tercatat sebesar 0,23 persen dengan kontribusi andil sebesar 0,15 persen pada April 2026. Komoditas dominan dalam komponen inti meliputi komoditas minyak goreng, nasi dengan lauk, gawai telepon seluler, ayam goreng, komputer jinjing, serta gula pasir.

Sektor harga yang dikontrol pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,69 persen dengan andil 0,13 persen akibat dampak kenaikan tarif penerbangan, bensin, bahan bakar rumah tangga, dan sigaret kretek mesin. Untuk komponen harga bergejolak, terjadi deflasi 0,88 persen berkat koreksi harga daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, dan cabai merah.

Peta inflasi bulanan menunjukkan sebanyak 30 provinsi mengalami kenaikan harga dengan inflasi tertinggi di Papua Barat sebesar 2,00 persen, sementara 8 provinsi mengalami deflasi dengan titik terdalam di Maluku sebesar 0,17 persen. Untuk skala tahunan, tingkat inflasi April 2026 bertengger di angka 2,42 persen, menunjukkan kenaikan dibandingkan realisasi tahunan April 2025 yang sebesar 1,95 persen.

Dorongan inflasi tahunan didominasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau lewat tingkat inflasi 3,06 persen serta andil 0,90 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi sebesar 11,43 persen akibat lonjakan harga perhiasan emas. Seluruh provinsi di Indonesia mencatatkan inflasi tahunan dengan posisi tertinggi di Papua Barat sebesar 5,00 persen dan posisi terendah di Lampung sebesar 0,53 persen.