Peneliti Jerman Ungkap Alasan Ilmiah Penyembelihan Hewan Kurban Sesuai Syariat Islam Tidak Menimbulkan Rasa Sakit

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Tata cara penyembelihan hewan kurban seperti kambing, domba, atau sapi pada hari Idul Adha ternyata memiliki dampak langsung terhadap rasa sakit yang dialami hewan. Dilansir dari Detik iNET, studi ilmiah membuktikan bahwa teknik pemotongan yang sesuai dengan syariat Islam tidak menimbulkan rasa sakit pada hewan kurban.

Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan hasil penelitian Profesor Wilhelm Schulze dan rekannya Dr Hazim dari University of Hannover di Jerman. Mereka melakukan pengujian medis untuk membandingkan metode penyembelihan menurut syariat Islam dengan metode konvensional.

Penyembelihan berdasarkan syariat Islam diterapkan dengan membuat sayatan yang cepat dan dalam di bagian leher menggunakan pisau yang sangat tajam. Prosedur ini secara langsung memutuskan tiga saluran utama di leher, yaitu saluran makanan, saluran pernapasan, serta dua pembuluh darah arteri.

Peneliti menggunakan alat Elektroensefalografi (EEG) untuk merekam aktivitas listrik di kulit kepala dan mengukur fluktuasi tegangan neuron otak. Selain itu, alat Elektrokardiogram (EKG) diaplikasikan untuk memantau aktivitas jantung hewan dalam jangka waktu tertentu.

Data dari grafik EEG menunjukkan bahwa tidak ada perubahan aktivitas pada tiga detik pertama setelah hewan disembelih secara syariat Islam. Kondisi ini mengindikasikan bahwa hewan kurban tidak merasakan sakit sama sekali dari sayatan pisau.

Memasuki tiga detik berikutnya, grafik EEG pada otak kecil menunjukkan penurunan secara bertahap yang polanya sangat mirip dengan fase tidur. Sinyal tersebut terus menurun hingga hewan kurban benar-benar kehilangan kesadaran secara total.

Pada saat yang sama, grafik EKG merekam aktivitas jantung yang luar biasa setelah enam detik pertama untuk memompa dan menarik darah sebanyak mungkin dari seluruh tubuh. Fenomena ini merupakan bentuk refleksi gerakan koordinasi antara organ jantung dan sumsum tulang belakang.

Perbandingan Mutu Daging Hasil Sembelihan

Proses pemompaan darah keluar tubuh secara maksimal menghasilkan daging yang lebih sehat dan bersih. Kualitas daging dari hasil penyembelihan ini telah memenuhi prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) untuk kategori makanan sehat.

Sebaliknya, metode konvensional menerapkan proses pemingsanan atau stunning terlebih dahulu yang membuat hewan terhuyung-huyung lalu roboh. Meski hewan menjadi lebih mudah dikendalikan dan tidak meronta saat disembelih, darah yang keluar justru jauh lebih sedikit.

Grafik EEG pada metode konvensional memperlihatkan peningkatan yang sangat signifikan setelah proses pemingsanan yang menjadi indikator kuat adanya rasa sakit. Sementara itu, grafik EKG menunjukkan penurunan yang mengakibatkan jantung kehilangan kemampuan untuk menarik darah secara optimal.

Darah yang tidak keluar secara maksimal kemudian membeku di dalam urat serta pembuluh darah di dalam daging. Kondisi darah yang membeku tersebut memicu penurunan kualitas daging menjadi tidak sehat dan dinilai tidak layak untuk dikonsumsi.

Anjuran Berbuat Ihsan dalam Syariat

Dalam ajaran Islam, umat muslim diwajibkan untuk selalu berbuat baik dan dilarang berbuat aniaya terhadap seluruh makhluk hidup, termasuk kepada hewan yang akan dikurbankan. Oleh karena itu, pisau yang digunakan harus diasah hingga setajam mungkin demi meringankan beban hewan, serta wajib mengawalinya dengan membaca basmallah.

Dari Syadad bin Aus RA, Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya Allah memerintahkan agar berbuat ihsan (baik) terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih (hewan), maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisau kalian untuk meringankan beban hewan yang akan disembelih." (HR Muslim no 1955).