Kementerian Keuangan menarik utang baru senilai Rp 305,5 triliun hingga 30 April 2026 untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Realisasi pembiayaan utang tersebut setara dengan 36,7 persen dari target keseluruhan tahun ini yang dipatok sebesar Rp 832,2 triliun, sebagaimana dilansir dari Money.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa penarikan pembiayaan tersebut masih berada dalam kondisi yang terkendali serta dijalankan secara terukur oleh pemerintah.
"Pembiayaan terjaga dan terukur. Saya pikir pembiayaan utang sampai dengan April Rp 305,5 triliun," kata Purbaya, Menteri Keuangan.
Sementara itu, realisasi pembiayaan non-utang mencatatkan angka minus Rp 7 triliun atau setara dengan 4,9 persen dari target APBN yang ditetapkan sebesar Rp 143,1 triliun. Posisi defisit pada sektor non-utang ini menandakan bahwa kas negara telah digelontorkan untuk pembiayaan tersebut.
"Pembiayaan nonutang minus Rp 7 triliun. Artinya apa tuh? Sudah keluar Rp 7 triliun," kata Purbaya, Bendahara Negara.
Secara kumulatif, realisasi pembiayaan anggaran negara sampai akhir April 2026 menyentuh angka Rp 298,5 triliun. Jumlah ini merepresentasikan 43,3 persen dari total target APBN yang berada pada angka Rp 689,1 triliun.
Pemerintah juga memastikan kesiapan dan kapasitas yang mumpuni untuk menerbitkan surat utang di pasar keuangan global maupun domestik demi menjaga stabilitas fiskal.
"Perlu dicatat dana kita cukup kredibel, kita tidak ada kesulitan untuk menerbitkan surat utang dan kita akan jaga terus kredibilitas APBN kita," ujar Purbaya, Menteri Keuangan.
Manajemen pembiayaan APBN 2026 dipastikan berjalan secara hati-hati serta terukur. Pemerintah terus memantau kondisi likuiditas, ketersediaan kas negara, hingga dinamika pasar keuangan global dan domestik.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·