Militer Amerika Serikat Serang Markas Rudal Iran di Selat Hormuz

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara baru di wilayah Iran selatan dengan menargetkan lokasi rudal serta kapal-kapal yang diduga hendak menempatkan ranjau, dilansir dari Detikcom.

Komando Pusat AS mengumumkan bahwa tindakan tersebut diambil sebagai langkah pembelaan diri demi melindungi pasukan mereka dari ancaman yang datang dari militer Iran.

Juru bicara Komando Pusat AS, Kapten Tim Hawkins, menjelaskan bahwa militer AS tetap berupaya menahan diri dalam mempertahankan pasukan di tengah situasi gencatan senjata yang sedang berlangsung.

Aksi militer ini terjadi bersamaan dengan pernyataan Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqai, mengenai adanya sejumlah kemajuan dalam perundingan dengan AS, walaupun kesepakatan damai belum akan tercapai dalam waktu dekat.

Kapten Tim Hawkins memaparkan bahwa operasi militer tersebut menyasar kawasan di dekat Bandar Abbas, sebuah kota pelabuhan di selatan Iran yang juga menjadi pangkalan angkatan laut di Selat Hormuz.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa otoritas setempat di Bandar Abbas tengah melakukan investigasi setelah suara ledakan terdengar di wilayah tersebut.

Pemerintah Iran belum memberikan respons resmi terkait serangan terbaru ini, dan dampak terhadap kelanjutan negosiasi damai kedua negara masih belum dapat dipastikan.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menilai kesepakatan damai masih berpeluang untuk dicapai, seraya merujuk pada dialog antara utusan utama Iran, menteri luar negeri Iran, dan perdana menteri Qatar.

"Kita akan lihat apakah kita bisa mencapai kemajuan. Saya kira saat ini masih banyak proses bolak-balik terkait bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi ini akan memakan waktu beberapa hari," kata Rubio.

Marco Rubio mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump telah menyampaikan keinginan kuat untuk merealisasikan perjanjian tersebut.

"Dia akan menghasilkan kesepakatan yang baik atau tidak sama sekali," ujar Rubio.

Perkembangan Negosiasi Damai

Presiden Donald Trump sempat menyatakan bahwa kedua pihak hampir mencapai kesepakatan, namun ia kemudian meminta para perunding untuk tidak terburu-buru, berbeda dari perkiraan Marco Rubio yang menyebut kesepakatan bisa tercapai lebih awal.

Esmail Baqai memberikan tanggapan mengenai dinamika perundingan yang sedang berjalan antar kedua negara.

"Benar bahwa kami telah mencapai kesimpulan atas sebagian besar isu yang dibahas... tetapi untuk mengatakan bahwa ini berarti penandatanganan kesepakatan sudah dekat, tidak seorang pun bisa membuat klaim seperti itu," tutur Baqai.

Rancangan nota kesepahaman yang sedang digodok mencakup poin perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pemulihan operasional Selat Hormuz, dan agenda dialog lanjutan mengenai program nuklir Iran.

Kendala dan Isu Krusial Perundingan

Intelijen AS meyakini Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang terluka dalam serangan Israel saat awal perang kini tengah berada di lokasi rahasia, yang menyebabkan hambatan komunikasi dengan para utusan diplomatik.

Sejumlah isu krusial yang masih diperdebatkan meliputi rincian mekanisme pelonggaran sanksi ekonomi, proses pencairan dana Iran yang dibekukan, serta batasan terhadap ambisi nuklir Teheran.

Iran diperkirakan menguasai sekitar 440 kilogram uranium dengan tingkat kemurnian 60 persen, yang mendekati level 90 persen untuk standar pembuatan senjata pemusnah massal.

Presiden Donald Trump menegaskan bahwa persediaan uranium yang telah diperkaya tersebut harus segera diserahkan kepada AS atau dimusnahkan di lokasi melalui koordinasi resmi dengan pihak Iran.

Pasukan AS dan Iran telah menjalankan gencatan senjata sejak 8 April, di mana Iran memegang kendali pelayaran di Selat Hormuz sementara Angkatan Navy AS menerapkan blokade pelabuhan.

Ketegangan berskala luas bermula sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 February, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan menyasar sekutu AS di Teluk serta menutup akses Selat Hormuz.