Jakarta (ANTARA) - Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mendorong pengembangan koperasi berbasis energi terbarukan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi hijau sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat di tingkat desa.
Saat membuka Forum Ekonomi Hijau Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran di Jakarta, Rabu, Ferry menyampaikan koperasi memiliki peran strategis dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan karena mampu mengelola sumber daya secara produktif, adil, dan berkelanjutan, serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam transformasi ekonomi nasional.
“Untuk memperkuat peran tersebut, Kementerian Koperasi mendorong berbagai kegiatan pengembangan koperasi berbasis energi terbarukan, sehingga instrumen kemandirian ekonomi desa itu juga bisa berkembang secara bersamaan,” kata Ferry dikutip dari keterangan pers.
Ia mencontohkan salah satu inisiatif yang tengah dijalankan pemerintah melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Dalam pelaksanaannya, ia menyebut Kementerian Koperasi menemukan masih terdapat sejumlah desa yang belum memiliki akses listrik memadai dan masih bergantung pada generator berbahan bakar solar yang hanya mampu beroperasi selama beberapa jam setiap hari.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Ferry mengatakan bahwa Kementerian Koperasi bekerja sama dengan PT PLN (Persero) mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) percontohan untuk koperasi desa di Pulau Sembur Laut, Kota Batam.
“Kami berdiskusi dengan PT PLN dan membuat pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas 6 megawatt yang kami buat sebagai pilot project di Sembur Laut. Dalam waktu dekat sudah bisa diresmikan menjadi model percontohan,” ujar Ferry.
Ia berharap model tersebut dapat direplikasi di berbagai desa yang hingga kini belum memperoleh akses listrik yang memadai.
Ia meyakini penggunaan energi terbarukan dapat membantu menekan biaya energi yang selama ini menjadi beban masyarakat di wilayah terpencil yang masih mengandalkan bahan bakar solar.
Meski demikian, ia mengakui pengembangan ekonomi hijau di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari penguatan kapasitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, koordinasi lintas sektor, hingga kebutuhan pembiayaan yang memadai.
Ferry menambahkan transformasi menuju ekonomi hijau tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan pemerintah maupun pelaku usaha besar, tetapi juga perlu tumbuh dari tingkat komunitas melalui partisipasi masyarakat.
Baca juga: Agrinas Palma perkuat kerja sama pengembangan energi hijau
Baca juga: Bappenas: Industri RI punya kapabilitas jadi rantai pasok hijau global
Baca juga: Indonesia-Singapura perkuat kerja sama di bidang ekonomi sirkular
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·