Ledakan Ekonomi Sektor Chip Korea Selatan dan Risiko Pasar Properti

Sedang Trending 1 hari yang lalu

22 June 2026 14:05

Heesu Lee-Bloomberg News

Bloomberg, Kepala Kebijakan Kepresidenan Korea Selatan, Kim Yong-beom, mengatakan para pembuat kebijakan perlu menimbang bagaimana manfaat dari ledakan ekonomi yang didorong oleh industri chip akan merambat ke seluruh perekonomian. Ia memperingatkan bahwa kelebihan likuiditas akan cenderung mengalir ke pasar properti.

Dalam sebuah postingan di Facebook, Kim Yong-beom mengatakan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan saat ini berada pada laju tercepat dalam lebih dari dua dekade,

Negara ini memang mendapat berkah atas kemajuan sektor AI dan pusat data global yang menggerakannya, sehingga menghasilkan lompatan laba di industri semikonduktor.

Meski indikator utama menunjukkan periode pertumbuhan yang luar biasa, banyak rumah tangga dan usaha kecil belum merasakan manfaatnya, tulis Kim Yong-beom.

Baca Juga

Kim Yong-beom menyoroti kesenjangan antara pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil sebesar 3,8% dan pertumbuhan pendapatan domestik bruto riil sebesar 13,2% pada kuartal pertama, dengan berargumen bahwa kenaikan harga chip telah mengungkit daya beli Korea Selatan jauh lebih besar daripada pertumbuhan output aktual.

Sebagian besar kenaikan pendapatan yang dihasilkan belum ‘bocor’ ke perekonomian secara luas, tetapi akan tampak pada kuartal-kuartal mendatang melalui bonus, kenaikan upah, dan repatriasi hasil ekspor, kata dia. Proses tersebut pada akhirnya dapat mendukung belanja barang mewah dan permintaan properti.

“Jika ditinjau kembali, gelontoran uang itu telah berulang kali mengalir ke pasar properti,” kata Kim Yong-beom, sambil menambahkan bahwa sulit untuk berasumsi bahwa siklus kali ini akan berbeda.

Kim Yong-beom menyerukan “normalisasi” pajak kepemilikan properti dan pajak keuntungan atas investasi atau modal, meskipun ia tidak merinci perubahan kebijakan apa yang ia maksud, jika memang ada.

Harga apartemen di Seoul telah naik selama 72 minggu berturut-turut hingga pertengahan Juni, menentang sekumpulan langkah pemerintah yang bertujuan mendinginkan pasar, termasuk pembatasan KPR yang lebih ketat.

Kim Yong-beom selanjutnya menegaskan bahwa pertumbuhan nominal yang lebih kuat pada akhirnya dapat menyulitkan upaya mempertahankan tingkat bunga saat ini tanpa batas waktu, sambil memperingatkan bahwa beban dari kebijakan moneter yang lebih ketat dapat dirasakan UMKM dan kelompok peminjam rentan, dimana mereka belum merasakan manfaat dari booming tersebut secara tidak proporsional.

Bank of Korea mempertahankan suku bunga kebijakannya tetap di 2,5% pada akhir Mei, sambil memberikan sinyal sikap kebijakan yang lebih hawkish seiring meningkatnya tekanan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari perkiraan.

Postingan Kim Yong-beom memberikan gambaran tentang bagaimana pemerintahan Presiden Lee Jae Myung mungkin memandang konsekuensi ekonomi dari keuntungan besar di sektor semikonduktor yang didorong oleh AI, termasuk risiko bahwa keuntungan tersebut terkonsentrasi pada segmen masyarakat yang sempit alih-alih mendukung pertumbuhan yang lebih luas.