Eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dilaporkan mulai memengaruhi stabilitas ekonomi global serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Money pada Jumat (17/4/2026), kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi energi dan penyesuaian suku bunga acuan.
Senior Portfolio Manager Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia, Rizki Ardhi menjelaskan bahwa dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah sangat bergantung pada durasi ketegangan dan kecepatan normalisasi distribusi minyak mentah dunia. Ia mencatat risiko gangguan pasokan besar bisa terjadi jika Selat Hormuz terdampak.
"Ketika gangguan bersifat sementara, dampaknya cenderung terbatas dan dapat dilewati oleh perekonomian global. Sebaliknya, eskalasi konflik yang berkepanjangan berpotensi menimbulkan tekanan yang lebih luas, terutama terkait energi," kata Rizki Ardhi, Senior Portfolio Manager Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Risiko saat ini dinilai berbeda dengan periode kenaikan harga minyak pada 2018 atau 2021 karena adanya ancaman disrupsi pada jalur distribusi strategis. Meskipun demikian, proyeksi OECD per Maret 2026 masih menganggap pertumbuhan ekonomi global relatif stabil dengan asumsi rata-rata harga minyak sebesar 84 dollar AS per barrel.
"Namun kondisi kali ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan, yakni meningkatnya risiko disrupsi pasokan minyak berskala besar apabila jalur strategis seperti Selat Hormuz terdampak," imbuh Rizki Ardhi, Senior Portfolio Manager Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Terkait kebijakan moneter, kenaikan harga minyak memang mendorong inflasi pada sektor energi dan transportasi. Namun, Rizki menggarisbawahi bahwa inflasi inti global masih terjaga sehingga bank sentral belum memiliki urgensi kuat untuk melakukan pengetatan moneter yang sangat agresif dalam waktu dekat.
"Kondisi ini penting bagi bank sentral, karena selama ekspektasi inflasi jangka menengah tetap terkendali, tekanan bank sentral global untuk melakukan pengetatan moneter agresif masih cukup terbatas," ucap Rizki Ardhi, Senior Portfolio Manager Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Di dalam negeri, Bank Indonesia tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar dan instrumen SRBI. Hingga saat ini, pelaku pasar mencermati ketiadaan sinyal penurunan suku bunga acuan sebagai respons atas ketidakpastian global yang masih tinggi.
"Yang juga menarik perhatian pasar adalah absennya sinyal mengenai potensi penurunan suku bunga ke depan," ungkap Rizki Ardhi, Senior Portfolio Manager Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Pemerintah juga telah merespons dengan mempertahankan harga BBM guna menjaga daya beli masyarakat, meskipun hal ini meningkatkan beban subsidi. Estimasi kenaikan anggaran subsidi mencapai Rp 103 triliun, namun tekanan tersebut diredam melalui langkah efisiensi anggaran pemerintah sebesar Rp 259 triliun.
"Meski demikian, tekanan tersebut relatif terkompensasi oleh langkah efisiensi dan realokasi anggaran pemerintah yang diperkirakan dapat menghemat hingga Rp 259 triliun, sehingga ruang fiskal masih cukup memadai," ujar Rizki Ardhi, Senior Portfolio Manager Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Stabilitas pasar modal Indonesia di masa mendatang akan sangat dipengaruhi oleh seberapa cepat pasokan minyak kembali normal untuk menghindari pengetatan moneter tambahan. Pengalaman historis menunjukkan lonjakan harga minyak seringkali hanya berdampak sesaat jika tidak dibarengi resesi global.
"Oleh karena itu dampak konflik di Timur Tengah terhadap outlook pasar Indonesia ke depan sangat bergantung pada seberapa cepat normalisasi harga dan pasokan minyak dapat terjadi, sehingga risiko resesi atau pengetatan moneter tambahan dapat dihindari," tutur Rizki Ardhi, Senior Portfolio Manager Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menambahkan bahwa dinamika politik antara Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell turut menjadi faktor tambahan yang menekan keuangan domestik. Jalur utama transmisi dampak tersebut meliputi arus modal, imbal hasil obligasi, dan kepercayaan pelaku usaha.
"Itu akan memaksa BI tetap ketat lebih lama, menahan penurunan biaya kredit, memperbesar tekanan impor energi, dan pada akhirnya menekan konsumsi serta investasi," ucap Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank.
Indonesia saat ini memiliki cadangan devisa sebesar 148,3 miliar dollar AS yang dianggap sebagai bantalan kuat menghadapi volatilitas. Namun, kombinasi konflik Timur Tengah dan sensitivitas pasar global tetap berpotensi memicu pelarian modal ke aset yang lebih aman.
"Isu Trump dan Powell tidak akan sendirian mengguncang ekonomi Indonesia, tetapi di tengah perang Timur Tengah, harga minyak yang masih tinggi, kerentanan rating, dan pasar global yang sensitif, isu ini bisa menjadi pemicu tambahan yang memperberat tekanan yang memang sudah ada," ungkap Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank.
Ketidakpastian politik di Amerika Serikat memberikan pengaruh yang tidak searah terhadap kekuatan dolar AS. Josua mencatat adanya sinyal negatif bagi mata uang Paman Sam tersebut sejak awal April yang dipicu oleh ancaman politik terhadap independensi The Fed.
"Ini sebabnya arah dollar AS tidak selalu satu jalur. Terdapat sinyal jangka pendek yang cenderung negatif bagi dollar AS sejak 8 April, dan ancaman Trump kepada Powell sebagai faktor yang menekan dollar AS," tutup Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·