Kementerian Pertanian mengucurkan dana insentif sebesar Rp 375 miliar bagi para petani domestik untuk memacu pengembangan pembibitan bawang putih di dalam negeri. Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam merealisasikan target swasembada komoditas tersebut, mengingat pasokan nasional saat ini masih didominasi oleh komoditas impor.
Alokasi anggaran yang dikucurkan oleh pemerintah ini menyasar area lahan pertanian seluas 5.000 hektare, dengan pendanaan yang bersumber langsung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Melalui program stimulus ini, petani akan difasilitasi bantuan pinjaman berupa bibit penangkaran senilai Rp 75 juta untuk setiap hektar lahan yang digarap, dilansir dari Money pada Rabu (17/6/2026).
Tingginya biaya modal awal untuk sektor hortikultura ini menjadi alasan utama pemerintah menyalurkan stimulus guna meringankan beban produksi para petani lokal. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menjelaskan bahwa proses penanaman bibit pada komoditas ini membutuhkan komponen biaya yang cukup besar dalam setiap hektarnya.
“Dalam satu hektar itu untuk menanam bawang putih pembibitan ini kira-kira dibutuhkan biaya sekitar Rp 120 juta per hektare, dan bibit itu dari Rp 120 juta itu Rp 75 jutanya,” kata Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian.
Terkait mekanisme program, para penerima manfaat memiliki kewajiban untuk mengembalikan modal stimulus tersebut dalam bentuk hasil panen bibit dengan rasio yang sudah ditentukan. Hasil pengembalian dari para petani nantinya akan diputar kembali oleh pemerintah untuk didistribusikan kepada kelompok tani lainnya.
“Bibit yang lain dikembalikan, satu setengah kali sisanya boleh dijual bebas,” ujar Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian.
Pemerintah memproyeksikan bahwa mekanisme bergulir ini dapat memperbanyak ketersediaan benih lokal secara mandiri dari waktu ke waktu. Kementan menargetkan akumulasi stok benih tersebut kelak mampu memenuhi seluruh kebutuhan penanaman pada area seluas 100.000 hektare secara nasional.
“Kalau sudah ada yang membibit, membibit, membibit kemudian kita bibitnya gimana bisa ditangkar cukup. Intinya nanti ujungnya obyektif dari ini bukan pembibitan tapi bagaimana yang ditanam itu yang kita konsumsi,” jelas Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian.
Ketergantungan yang masif terhadap pasar luar negeri menjadi tantangan struktural yang ingin diselesaikan oleh kementerian dalam beberapa tahun ke depan. Terlebih lagi, terdapat kebijakan pembatasan volume ekspor benih dari negara mitra yang berpotensi mengancam pemenuhan target luas tanam domestik.
“Kita butuh at least 3-4 tahun untuk bisa mencapai swasembada ini. Tantangan paling utama adalah ketersediaan lahan dan juga adalah khususnya lagi adalah ketersediaan bibit,” tutur Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian.
7 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·