Kemenaker Dorong Produk Usaha Pondok Pesantren Tembus Pasar Global

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Kementerian Ketenagakerjaan mendorong produk usaha pondok pesantren di Indonesia agar mampu menembus pasar global melalui penguatan pelatihan keterampilan dan infrastruktur. Langkah strategis ini disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Expo Inkopontren 2026 di Gedung SME Tower–SMESCO Indonesia, Jakarta Selatan, pada Rabu (20/5/2026).

Pengembangan komoditas ekspor dari lingkungan pesantren dinilai memiliki potensi besar, seperti produk batik dan sarung. Komitmen peningkatan kompetensi ini dilansir dari Cahaya untuk mendorong kemandirian ekonomi berbasis komunitas.

"Banyak sekali di pondok-pondok, mulai dari batik hingga sarung. Produk desa go global kini semakin dekat," ujar Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan Indah Anggoro Putri.

Modernisasi koperasi pesantren tersebut berjalan selaras dengan program pemerintah dalam menaikkan rasio kewirausahaan nasional. Saat ini, jumlah wirausaha di Indonesia telah menyentuh angka sekitar 56 juta jiwa.

"Sekarang total wirausaha kita sudah mencapai sekitar 56 jiwa dan menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir," kata Indah.

Kolaborasi antara pemerintah dan Induk Koperasi Pondok Pesantren diwujudkan melalui optimalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) komunitas. Sebanyak kurang lebih 3.000 BLK komunitas telah dibangun di lingkungan pesantren sejak tahun 2019.

"Kami punya BLK tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Di sana tidak hanya pelatihan, tetapi juga sertifikasi kompetensi," ungkap Indah.

Pemerintah juga menyediakan skema Tenaga Kerja Mandiri berupa bantuan modal awal sebesar Rp 5 juta bagi para santri yang memulai usaha. Nilai bantuan dapat ditingkatkan hingga Rp 15 juta apabila usaha tersebut menunjukkan perkembangan.

"Ini salah satu cara pemerintah melahirkan wirausaha baru dari lingkungan pesantren," kata Indah.

Langkah penguatan ekonomi ini mendapat dukungan penuh dari pihak pengelola koperasi pesantren demi memperluas jangkauan pasar domestik maupun internasional. Jaringan pesantren yang besar menjadi modal utama dalam membangun ekosistem perdagangan digital yang mandiri.

Wakil Ketua Umum Inkopontren KH Suharisto menjelaskan bahwa pihaknya kini sedang memperkuat pengembangan marketplace pesantren. Potensi pasar internal ini sangat besar mengingat Indonesia memiliki sekitar 42 ribu pondok pesantren dengan total sekitar 15 juta santri dan civitas akademika.

"Kalau kita membuat marketplace dagang di kalangan sendiri, itu sudah luar biasa," ujar Suharisto.

Melalui penyelenggaraan Rakernas dan Expo Inkopontren 2026, diharapkan seluruh produk usaha santri dapat diproduksi secara lebih profesional dan memenuhi standar kualitas pasar global.