PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatatkan volume angkutan barang sebesar 14.948.442 ton sepanjang triwulan I 2026 yang dilaporkan pada Senin, 27 April 2026. Pencapaian ini memperkuat peran moda transportasi rel dalam menghubungkan kawasan produksi dengan pusat konsumsi untuk menjaga stabilitas harga nasional.
Data operasional menunjukkan tren pertumbuhan volume angkutan barang yang konsisten dalam sepuluh tahun terakhir dengan kenaikan mencapai 74,2 persen. Dilansir dari Money, jumlah muatan melonjak signifikan dari 40.060.714 ton pada tahun 2017 menjadi 69.791.691 ton pada penutupan tahun 2025.
Kinerja angkutan barang pada awal tahun ini juga didukung oleh tingkat ketepatan waktu yang tinggi dalam operasional harian. KAI mencatat persentase ketepatan waktu keberangkatan mencapai 95,97 persen, sementara untuk ketepatan waktu kedatangan berada pada angka 91,77 persen.
Pemanfaatan kereta api dinilai efektif menekan kepadatan jalan raya karena kapasitas angkutnya yang sangat masif. Sebagai gambaran, satu rangkaian kereta batu bara di Sumatra bagian selatan mampu membawa 3.000 ton muatan, atau setara dengan kapasitas 120 unit truk.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa konsistensi pertumbuhan ini menjadi dasar penting bagi pengembangan infrastruktur perkeretaapian di Indonesia.
"Pertumbuhan angkutan barang yang konsisten menunjukkan adanya kebutuhan distribusi dalam skala besar dengan kepastian waktu. Hal ini menjadi dasar penting untuk mendorong pengembangan infrastruktur perkeretaapian yang lebih luas dan terintegrasi," ujar Anne Purba, VP Corporate Communication KAI.
Anne menambahkan bahwa penguatan infrastruktur perkeretaapian akan memberikan dampak langsung terhadap distribusi barang di berbagai wilayah Indonesia.
"Pengembangan jaringan dan peningkatan kapasitas angkutan berbasis rel akan membuka peluang distribusi yang lebih merata. Hal ini akan mendukung kelancaran pasokan dan berkontribusi pada stabilitas harga di masyarakat," lanjut Anne Purba, VP Corporate Communication KAI.
Langkah strategis ini diharapkan mampu menurunkan biaya logistik nasional yang saat ini masih berkisar antara 15 hingga 20 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut masih berada di atas standar global yang idealnya mencapai 7 sampai 8 persen.
"Arah ini diharapkan mampu memperkuat konektivitas distribusi, menekan biaya logistik, serta mendukung daya saing ekonomi Indonesia," tutup Anne Purba, VP Corporate Communication KAI.
Pusat aktivitas logistik nasional saat ini masih didominasi di Pulau Jawa dengan porsi sekitar 60 persen dan nilai perputaran ekonomi mencapai Rp2.400 hingga Rp2.500 triliun per tahun.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·