Investor Lepas Obligasi Pemerintah Indonesia akibat Risiko Inflasi

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Aksi jual massal kembali melanda pasar Surat Utang Negara (SUN) Indonesia pada sesi perdagangan Senin (22/6/2026) akibat kekhawatiran investor terhadap risiko inflasi global yang belum mereda. Meskipun negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran sedang berlangsung, pelaku pasar tampaknya belum meyakini situasi makroekonomi akan segera membaik. Kenaikan imbal hasil atau yield terjadi pada hampir seluruh tenor surat utang yang mencerminkan adanya tekanan jual yang kuat, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada pukul 10:14 WIB.

Lonjakan tajam tercatat pada yield tenor 6 tahun yang naik sebesar 15,9 basis poin ke level 7,15 persen, diikuti tenor 30 tahun yang meningkat 14,4 basis poin menjadi 7,39 persen. Kenaikan imbal hasil ini tidak hanya melanda tenor pendek yang sensitif terhadap suku bunga, tetapi juga meluas ke instrumen berjangka menengah hingga panjang. Pelaku pasar kini tengah melakukan kalkulasi ulang terhadap prospek ekonomi jangka panjang karena khawatir inflasi yang tinggi dapat menggerus nilai kupon riil dari investasi mereka.

Kondisi serupa juga terjadi di pasar surat utang global yang menunjukkan tren pengetatan imbal hasil, di mana yield US Treasury tenor 10 tahun naik 3 basis poin ke posisi 4,48 persen. Peningkatan ini dipicu oleh sikap hawkish bank sentral AS, The Fed, yang mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

Gelombang pelepasan aset oleh investor asing tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga terjadi di beberapa negara berkembang Asia lainnya. Di Thailand, investor asing melepas kepemilikan obligasi senilai US$345,4 juta pada 19 Juni lalu, menjadikannya arus keluar dana asing terbesar di pasar obligasi kawasan tersebut pada periode tersebut. Sebagai perbandingan, Indonesia mencatat penjualan bersih oleh investor asing senilai US$90,9 juta di pasar obligasi pada 18 Juni, di samping pelepasan kepemilikan saham senilai US$179,5 juta. Sebaliknya, pasar obligasi Malaysia justru mencatat aksi beli bersih oleh investor asing sebesar US$493 juta pada 15 Juni karena prospek ekonomi yang dinilai lebih baik.

Sikap defensif dari para investor global ini dipicu oleh ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama di Amerika Serikat, ketidakpastian harga minyak mentah, serta kekhawatiran inflasi global yang diproyeksikan IMF berada di kisaran 4 persen. Di dalam negeri, tekanan inflasi pangan di Indonesia terpantau melonjak menjadi 4,94 persen secara tahunan pada Mei 2026, yang berpotensi terus menekan nilai tukar rupiah dan memperlebar defisit fiskal.