Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan sebesar 6,61 persen secara point-to-point ke posisi 7.129 sepanjang perdagangan pekan 20 hingga 24 April 2026. Penurunan ini didorong oleh aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp5 triliun di pasar reguler.
Melansir data Bloomberg Technoz, total nilai jual bersih atau net sell investor asing di seluruh pasar tercatat sebesar Rp2,9 triliun. Tekanan jual paling signifikan menyasar saham sektor perbankan, khususnya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Saham BBCA mencatatkan net sell terbesar oleh investor asing dengan nilai mencapai Rp2,38 triliun. Kondisi ini menyebabkan harga saham BBCA terkoreksi sebesar 5,84 persen hingga menyentuh level Rp6.050 per lembar saham pada penutupan pekan tersebut.
Selain BBCA, sejumlah saham blue chip lainnya juga dilepas secara masif oleh pemodal luar negeri. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) masing-masing mencatat angka net sell sebesar Rp1,8 triliun dan Rp1,16 triliun.
| 1 | PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) | Rp2,38 triliun |
| 2 | PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) | Rp1,8 triliun |
| 3 | PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) | Rp1,16 triliun |
| 4 | PT Bumi Resources Tbk (BUMI) | Rp203,57 miliar |
| 5 | PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) | Rp169,84 miliar |
| 6 | PT Petrosea Tbk (PTRO) | Rp129,12 miliar |
| 7 | PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) | Rp123,62 miliar |
| 8 | PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) | Rp121,27 miliar |
| 9 | PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) | Rp118,74 miliar |
| 10 | PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) | Rp102,05 miliar |
Berbanding terbalik dengan tren pelemahan indeks, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) justru menjadi incaran investor asing. Berdasarkan laporan Bloomberg Technoz, emiten ini mencatatkan nilai beli bersih (net buy) tertinggi mencapai Rp352,92 miliar.
Minat beli yang tinggi terhadap BBNI berhasil mengerek harga sahamnya naik sebesar 1,62 persen menuju posisi Rp3.770 per lembar. Selain sektor perbankan, investor asing juga terlihat masuk ke saham-saham sektor komoditas dan energi baru terbarukan.
| 1 | PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) | Rp352,92 miliar |
| 2 | PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) | Rp237,41 miliar |
| 3 | PT Vale Indonesia Tbk (INCO) | Rp184,68 miliar |
| 4 | PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) | Rp183 miliar |
| 5 | PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) | Rp168,69 miliar |
| 6 | PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) | Rp139,49 miliar |
| 7 | PT United Tractors Tbk (UNTR) | Rp137,05 miliar |
| 8 | PT Indika Energy Tbk (INDY) | Rp93,65 miliar |
| 9 | PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) | Rp83,03 miliar |
| 10 | PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) | Rp81,91 miliar |
Aksi borong saham ini juga terlihat pada emiten PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dengan nilai beli masing-masing di atas Rp180 miliar. Penutupan perdagangan pekan tersebut menempatkan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) di posisi ke-10 daftar beli bersih asing.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·