IHSG Tetap Menguat Pagi Ini di Tengah Tekanan Saham KLBF dan ITMG

Sedang Trending 7 jam yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG cenderung bergerak menguat hingga menyentuh level 6.290 atau naik sekitar 0,51 persen pada perdagangan Rabu, 17 Juni 2026 pukul 10.26 WIB, meskipun sempat mendapatkan tekanan dari koreksi saham sektor farmasi dan pertambangan batu bara.

Laju indeks komposit nasional yang tetap melaju positif ini menempatkannya sebagai bursa dengan performa terbaik di kawasan Asia pada perdagangan pagi hari tersebut, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.

Kondisi ini terjadi saat mayoritas bursa saham utama Asia lainnya, termasuk TW Weighted Index di Taiwan, PSEi di Filipina, Shanghai Composite di China, KOSPI di Korea Selatan, serta Hang Seng di Hong Kong justru terpuruk di zona merah.

Berdasarkan data resmi dari Bursa Efek Indonesia, volume transaksi di pasar domestik menyentuh angka 4,47 miliar saham dengan nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp3,31 triliun melalui frekuensi perdagangan sebanyak 310.555 kali.

Pergerakan pasar menunjukkan dominasi sentimen positif dengan tercatatnya 390 saham yang mengalami penguatan, berbanding terbalik dengan 144 saham yang melemah, sementara 184 saham lainnya posisinya tidak bergerak.

PT Kalbe Farma Tbk menjadi beban utama pergerakan setelah sahamnya merosot 1,35 persen ke angka Rp730 per saham sehingga memangkas pergerakan indeks sekitar 0,82 persen atau menekan IHSG sebanyak 0,074 poin.

Selain emiten farmasi tersebut, koreksi juga dialami oleh saham emiten tambang batu bara PT Indo Tambangraya Megah Tbk yang melemah sebesar 0,43 persen ke level Rp22.750 per saham atau merosot 3,6 persen dari periode sama tahun lalu.

Tekanan pasar domestik ini kontras dengan situasi pasar modal Amerika Serikat yang sebelumnya ditutup memerah akibat kejatuhan saham teknologi raksasa, di mana Nasdaq 100 anjlok 1,9 persen dan S&P 500 terkoreksi 0,6 persen.

Beberapa analis memproyeksikan indeks komposit masih memiliki ruang untuk melanjutkan tren kenaikan menuju area resistance yang berada pada kisaran level 6.287 hingga mencapai 6.300.

Analis teknikal dari BRI Danareksa Sekuritas memberikan gambaran mengenai proyeksi pergerakan indeks ke depan yang dinilai masih berpeluang mempertahankan performa positifnya.

"Secara teknikal, momentum rebound masih terjaga selama masih IHSG bertahan di atas support 6.071-5.931, dengan potensi melanjutkan penguatan menuju resistance 6.300-6.360," kata Technical Analyst BRI Danareksa Sekurtias Reza Diofanda.

Ia menambahkan bahwa kenaikan ini didorong oleh pembentukan pola pemulihan serta terjaganya indeks di atas level psikologis, didukung ekspektasi kebijakan suku bunga acuan dari Bank Indonesia dan Federal Reserve.

"Sentimen positif didukung oleh ekspektasi Bank Indonesia dan The Fed yang diperkirakan mempertahankan suku bunga," tutur Reza Diofanda.

Indikator pasar modal lainnya seperti momentum volume perdagangan juga dinilai memperkuat peluang penguatan indeks domestik dalam jangka pendek.

"Secara teknikal, pergerakan IHSG diperkirakan masih dapat menguat setelah kembali membentuk pola upward bar," kata Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta.

Selain indikator teknikal tersebut, pergerakan investor ke depan dipengaruhi penantian rincian kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz yang telah menurunkan harga minyak dunia di bawah US$80 per barel.

Pasar saat ini juga berfokus pada hasil pertemuan FOMC mengenai keputusan suku bunga The Fed yang diproyeksi tetap di level 3,75 persen, serta hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan naik ke 5,75 persen.

"Para pelaku pasar juga mulai tertuju pada agenda review klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI yang dijadwalkan pada 23 Juni 2026," kata Nafan Aji Gusta.