Kabar baik bagi para perakit komputer dan gamer karena harga memori DDR5 mulai menunjukkan tren penurunan signifikan di pasar global. Dilansir dari Tekno, penurunan ini terlihat cukup tajam di wilayah China menjelang akhir April 2026.
Meskipun belum merata secara global, pergerakan harga ini memberikan angin segar bagi konsumen yang sebelumnya tertekan oleh mahalnya komponen memori. Di pasar China, modul DDR5 SO-DIMM 16 GB untuk laptop kini dibanderol sekitar 1.159 yuan atau setara Rp 2,8 juta.
Angka tersebut menunjukkan penurunan sekitar 34 persen dibandingkan harga pada Februari 2026 yang sempat menyentuh 1.759 yuan atau sekitar Rp 4,3 juta. Selain itu, kit memori DDR5 32 GB juga dilaporkan anjlok hingga 30 persen pada pertengahan April.
Komponen RAM generasi sebelumnya, yakni DDR4 berkapasitas 8 GB dan 16 GB, turut mengalami penurunan nilai sekitar 25 persen. Meski demikian, jika ditarik ke belakang, harga saat ini masih hampir lima kali lipat lebih mahal dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ketidakstabilan pasar memori terlihat dari fluktuasi harga di wilayah Eropa yang sempat melandai pada Maret namun kembali naik di bulan April. Fenomena serupa terjadi di Amerika Serikat, di mana kit RAM DDR5 32 GB dari Corsair dilaporkan mengalami penurunan harga hingga 20 persen.
Data dari DigiTimes mencatat harga spot RAM DDR4 16 GB turun sekitar 5 persen bulan lalu menjadi 74,10 dollar AS atau sekitar Rp 1,27 juta. Ini menjadi penurunan bulanan pertama untuk jenis tersebut sejak Februari tahun sebelumnya.
Terdapat dua faktor utama yang memicu melandainya harga memori di pasaran. Pertama, para distributor besar mulai melepas stok yang sebelumnya ditimbun saat harga berada di puncak karena melemahnya daya beli konsumen kelas PC rumahan.
Penyebab kedua berkaitan dengan inovasi teknologi dari Google yang memperkenalkan teknik kompresi memori bernama TurboQuant. Teknik ini diklaim mampu memangkas penggunaan memori cache hingga enam kali lipat saat menjalankan model bahasa besar (LLM).
Kehadiran TurboQuant membuat para spekulan khawatir permintaan memori dari pusat data akan anjlok secara drastis. Hal ini mendorong mereka untuk segera menjual stok RAM sebelum harga mengalami penurunan lebih jauh di masa depan.
Namun, konsumen diharapkan tetap cermat karena harga di pasar spot tidak selalu langsung berdampak pada harga laptop atau PC rakitan jadi. Produsen besar biasanya terikat kontrak jangka panjang yang pergerakan harganya lebih lambat mengikuti pasar bebas.
Analis dari TrendForce memproyeksikan harga memori di pasar kontrak justru masih berpotensi naik pada kuartal kedua 2026. DRAM konvensional diperkirakan melonjak antara 58 hingga 63 persen, sementara NAND Flash untuk SSD diprediksi melompat 70 hingga 75 persen.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·