Nilai komoditas emas mengalami penurunan tipis setelah upaya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu pada Senin, 28 April 2026. Konflik yang telah berlangsung selama dua bulan tersebut terus membebani pasar global serta meningkatkan risiko inflasi dunia.
Sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz, harga emas batangan merosot hingga di bawah level US$4.700 per ounce. Penurunan ini terjadi pasca laporan Axios mengenai proposal baru Iran kepada AS untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan syarat penundaan negosiasi program nuklir.
Situasi diplomatik semakin tegang setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan kunjungan utusan utamanya ke Pakistan pada akhir pekan lalu. Di sisi lain, Teheran menyatakan penolakan tegas untuk berunding selama ancaman terhadap negara mereka masih berlangsung.
Dilin Wu, seorang ahli strategi riset di Pepperstone Group Ltd, memberikan analisis terkait pergerakan harga logam mulia tersebut di tengah kondisi politik yang tidak menentu.
"Kecuali kita melihat pembukaan kembali yang lebih berkelanjutan atau jalan yang kredibel menuju kesepakatan damai, setiap kenaikan harga emas yang baru kemungkinan akan bersifat sementara, dengan harga terus diperdagangkan dalam kisaran tertentu," kata Dilin Wu, seorang ahli strategi riset di Pepperstone Group Ltd.
Ketegangan ini juga berdampak pada sektor energi dengan naiknya harga minyak mentah akibat blokade di Selat Hormuz yang menghambat sekitar seperlima aliran minyak dunia. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa bank sentral akan mempertahankan atau menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi.
Kepala riset dan strategi logam di MKS PAMP SA, Nicky Shiels, menilai kondisi pasar saat ini sangat lemah dan tidak menentu bagi para investor logam mulia.
"Keyakinan pasar lemah, alokasi yang lebih besar tetap terabaikan, kondisi fisik beragam, dan ‘hilang’ mungkin adalah kata yang paling jujur untuk menggambarkan kondisi pasar saat ini," kata Nicky Shiels, kepala riset dan strategi logam di MKS PAMP SA, dalam sebuah catatan.
Meskipun gencatan senjata sempat bertahan selama akhir pekan, Presiden Trump tetap menginstruksikan Jared Kushner dan Steve Witkoff untuk membatalkan mediasi di Pakistan. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan posisi negaranya dalam menghadapi tekanan internasional.
"Negara kami tidak akan memasuki negosiasi yang dipaksakan di bawah ancaman atau blokade," tegas Masoud Pezeshkian, Presiden Iran.
Shiels menambahkan bahwa pergerakan harga emas saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen berita terkait status gencatan senjata yang terus berubah-ubah di kawasan Timur Tengah.
"Judul berita ‘gencatan senjata aktif/nonaktif’ telah memengaruhi pasar," kata Shiels.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan emas berperilaku menyerupai aset berisiko dengan korelasi negatif terhadap minyak namun cenderung positif terhadap ekuitas. Hal ini membuat minat pasar untuk mendorong harga kembali ke level tinggi menjadi berkurang.
"Dengan emas sekarang berperilaku sebagai aset berisiko — berkorelasi negatif dengan minyak, berkorelasi positif secara longgar dengan ekuitas tetapi merupakan proksi yang buruk untuk keduanya — hanya ada sedikit keinginan untuk mengejarnya di bawah US$5.000," kata Shiels.
Pada perdagangan di London pukul 16.43 waktu setempat, harga emas spot tercatat turun 0,7 persen menjadi US$4.679,092 per ounce. Pelemahan juga diikuti oleh perak yang turun 0,7 persen ke level US$75,22, sementara platinum dan paladium masing-masing merosot 1,1 persen dan 1,4 persen.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·