Harga Batu Bara Newcastle Menguat ke Level US$ 134 per Ton

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Harga batu bara di pasar ICE Newcastle kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup menguat 0,26 persen ke level US$ 134 per ton pada perdagangan Kamis, 30 April 2026. Capaian ini merupakan titik tertinggi sejak pertengahan April meskipun secara akumulatif harga komoditas tersebut merosot tajam selama satu bulan terakhir.

Kenaikan yang terjadi pada hari Kamis menggenapkan tren penguatan selama dua hari berturut-turut dengan akumulasi kenaikan sebesar 2,09 persen secara point-to-point. Namun, dilansir dari Bloombergtechnoz, performa harga sepanjang April tercatat mengecewakan setelah mengalami koreksi sedalam 5,93 persen.

Tekanan terhadap harga si batu hitam terjadi di tengah komitmen global untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil melalui konferensi di Santa Clara, Kolombia. Pertemuan internasional yang dihadiri lebih dari 50 negara tersebut berupaya mendorong transisi menuju energi baru terbarukan secara lebih nyata.

Menteri Iklim dan Pertumbuhan Hijau Belanda, Stientje van Veldhoven, memberikan penegasan mengenai pentingnya momentum pelepasan ketergantungan energi fosil saat ini. Ia menilai pengembangan energi bersih akan memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan bagi banyak negara di dunia.

"Jika negara-negara bisa mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil secara signifikan, maka artinya mereka akan membangun ekonominya sendiri ketimbang harus mengimpor dari negara lain. Mereka akan berinvestasi di teknologi dan melindungi diri dari guncangan harga energi seperti yang kita lihat sekarang," tegas van Veldhoven.

Analisis teknikal bulanan menunjukkan posisi batu bara sebenarnya masih bertahan di zona bullish dengan indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada pada angka 52. Kendati demikian, angka tersebut dinilai cenderung netral karena belum menjauh dari batas angka 50.

Kondisi jenuh beli atau overbought juga terdeteksi melalui indikator Stochastic RSI 14 hari yang telah menyentuh angka 83. Kondisi ini memberikan sinyal bahwa harga kemungkinan besar masih akan menghadapi tekanan pada periode perdagangan berikutnya.

Level US$ 122 per ton menjadi target dukungan atau support terdekat apabila harga kembali terkoreksi, dengan risiko penurunan lanjutan ke level US$ 117-115 per ton. Sebaliknya, jika terjadi pembalikan arah, harga perlu menembus pivot point pada level US$ 137 per ton untuk menguji resisten di kisaran US$ 144-156 per ton.