Penyerang sayap Argentina, Alejandro Garnacho, mengungkapkan penyesalannya terkait beberapa tindakannya menjelang akhir masa baktinya di Manchester United. Meskipun demikian, ia menegaskan tidak memiliki dendam terhadap mantan klubnya dan bangga dengan keputusannya bergabung dengan Chelsea pada musim panas 2025.
Garnacho dilepas oleh Manchester United ke Chelsea dengan nilai transfer 40 juta poundsterling atau sekitar Rp918 miliar. Kepindahan ini menyusul ketegangan yang dilaporkan antara Garnacho dengan manajer Manchester United saat itu, Ruben Amorim, yang membuatnya kerap dicadangkan.
Dilansir dari Tribuna pada Jumat (11/4/2026), Garnacho merasa sangat dihormati selama di Old Trafford. Klub tersebut memberinya kepercayaan sejak awal, bahkan saat ia masih berada di akademi Atletico Madrid di Spanyol.
“Itulah momen terbaik saya ketika bermain di sana. Man United memberi saya kepercayaan sejak awal dari di Spanyol, saya pun merasakan cinta yang luar biasa dari semua orang di sana termasuk dari suporter,” kata Garnacho.
Pemain kelahiran 2004 ini juga menyampaikan bahwa keputusan untuk pergi adalah bagian dari perjalanan hidup. Ia menambahkan bahwa tidak ada hal buruk yang bisa ia katakan tentang mantan timnya, hanya kenangan indah yang tersisa.
“Terkadang Anda harus berubah karena kebaikan hidup Anda atau langkah selanjutnya, dan Anda tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi dalam hidup, jadi saya tidak punya hal buruk untuk dikatakan tentang mereka,” ujarnya dikutip dari Sky Sports.
Dalam wawancara dengan Premier League, Garnacho mengakui adanya perannya dalam memburuknya hubungan dengan Amorim. Ia merasa frustrasi karena jarang bermain dan sempat melakukan "beberapa hal buruk".
“Saya ingat dalam enam bulan terakhir saya tidak bermain seperti sebelumnya di Manchester United. Saya mulai duduk di bangku cadangan, itu bukan hal yang buruk. Saya baru berusia 20 tahun, tetapi dalam pikiran saya, saya merasa harus bermain di setiap pertandingan,” kata Garnacho.
Garnacho mengakui bahwa pola pikirnya yang merasa harus selalu bermain di setiap pertandingan mungkin menjadi kesalahannya. Pengakuan ini menunjukkan refleksi diri atas insiden yang mengakhiri kariernya di Manchester United setelah 144 penampilan, 26 gol, dan 22 assist.
Meski mengalami perpisahan yang tidak menyenangkan dan sempat muncul laporan masalah disipliner, Garnacho menegaskan bahwa ia tidak menyimpan dendam terhadap United. Ia hanya memiliki kenangan positif tentang klub, staf, dan rekan-rekan setimnya.
Di Chelsea, Garnacho menghadapi tantangan baru. Ia kesulitan menunjukkan performa konsisten di bawah asuhan Liam Rosenior dan hanya mencetak satu gol di Liga Premier musim ini, membuatnya menjadi opsi rotasi.
Kendati demikian, Garnacho merasa bangga bisa berada di Chelsea dan tetap bermain di Liga Premier. Ia juga menyiratkan bahwa dirinya tidak menyesali keputusan untuk pindah ke Stamford Bridge.
“Saya bangga berada di sini [di Chelsea] dan masih berada di Liga Premier di klub seperti ini. Semua orang tahu tim yang kami miliki dan hal-hal yang dapat kami lakukan,” jelasnya.
Kini, Garnacho harus berjuang keras di Chelsea untuk membuktikan kemampuannya, di tengah laporan minat dari klub-klub luar negeri seperti River Plate untuk kemungkinan peminjaman.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·