Gapembi Sebut Program Makan Bergizi Gratis Dorong Ekonomi Kerakyatan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memiliki dampak ganda yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan nutrisi masyarakat. Skema nasional ini juga dirancang untuk menggerakkan roda ekonomi kerakyatan melalui pelibatan aktif para pelaku usaha lokal di berbagai daerah.

Dikutip dari Money, Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (Gapembi) menyatakan komitmennya untuk mendukung keberlanjutan serta membantu proses sosialisasi program MBG di tengah masyarakat. Langkah ini diambil guna memastikan program berjalan berkesinambungan.

Ketua Umum Gapembi Alven Stony mengungkapkan bahwa organisasi yang dipimpinnya bersama para mitra tidak memanfaatkan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam menjalankan operasionalnya. Gapembi memposisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah untuk mengedukasi publik.

"Gapembi hadir untuk meluruskan berbagai informasi yang keliru terkait program MBG, sehingga cita-cita anak bangsa tidak terhambat akibat kesalahpahaman atau penghentian program," ujar Alven dalam siaran pers pelantikan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gapembi Lampung, dikutip pada Rabu (20/5/2026).

Alven juga menambahkan bahwa memastikan keberlanjutan program MBG menjadi hal krusial demi menyokong masa depan generasi penerus Indonesia yang jauh lebih sehat serta memiliki kualitas tinggi.

Indonesia saat ini tercatat sebagai negara dengan program pemenuhan makan bergizi terbesar kedua di dunia, tepat di bawah India. Cakupan program nasional ini terus diperluas demi menjangkau lebih banyak penerima manfaat.

Direktur Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat Badan Gizi Nasional (BGN) RI Tengku Syahdana menjelaskan, jaringan program MBG yang dikelola pemerintah sejauh ini telah menyentuh sekitar 62 juta penerima manfaat yang tersebar di wilayah Indonesia.

Menurut Tengku, perancangan program ini sejak awal tidak hanya ditujukan pada sektor kesehatan semata, melainkan juga untuk memperkuat ketahanan finansial masyarakat kelas bawah dan menengah.

"Program ini bukan hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga mendorong sinergi ekonomi kerakyatan untuk semua pihak," kata Tengku.

Dalam implementasi teknis di lapangan, BGN menerapkan aturan ketat pada rantai pasok. Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diwajibkan menjalin kerja sama dengan minimal lima pemasok yang berbeda.

Unit penyedia bahan baku tersebut harus merangkul entitas lokal setempat, mulai dari koperasi, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga kelompok tani yang berada di area sekitar dapur mbg.

"Tujuannya agar manfaat ekonomi tersebar dan kesejahteraan meningkat bersama," ujarnya.

Mengatasi Ketimpangan Akses Nutrisi Desa dan Kota

Pemerataan distribusi gizi ini juga mendapat perhatian dari pemerintah daerah karena dinilai mampu memangkas jarak kesenjangan sosial yang selama ini terjadi antara wilayah urban dan rural.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal berpendapat bahwa kehadiran program MBG dapat menjadi instrumen strategis untuk meminimalisasi ketimpangan sosial, khususnya terkait keterbatasan akses pangan sehat di pedesaan.

Rahmat menekankan bahwa langkah krusial untuk menaikkan kapasitas dan mutu generasi masa depan harus diawali dari pemenuhan asupan nutrisi anak-anak secara adil dan merata.

"Program MBG diharapkan mampu membantu mengurangi ketimpangan, terutama dalam akses nutrisi yang seimbang bagi anak-anak," ujar Rahmat.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, sebaran populasi Indonesia sebesar 70 persen berada di area perdesaan. Sebaliknya, perputaran dan konsentrasi kekayaan nasional justru berpusat hingga 70 persen di wilayah perkotaan besar.

Ketidakseimbangan figur tersebut dinilai menjadi representasi nyata masih tingginya jurang ekonomi serta akses kesejahteraan hidup di tengah masyarakat. Oleh karena itu, investasi gizi sejak dini menjadi sangat penting.

Rahmat optimistis pelaksanaan MBG secara konsisten akan menjadi fondasi dasar dalam melahirkan generasi muda yang cerdas sebelum Indonesia melangkah menuju fase peradaban yang jauh lebih maju.

"Peningkatan kualitas generasi dimulai dari pemenuhan gizi anak-anak," katanya.