Jakarta (ANTARA) - Sama-sama disanjung oleh pelatihnya masing-masing sebagai pemain yang membawa pengaruh besar kepada timnya, Declan Rice dan Vitinha akan menjadi pusat perhatian penonton dan pengamat sepak bola ketika Arsenal dan Paris Saint Germain berhadapan dalam final Liga Champions di Puskas Arena, Hungaria, Sabtu (30/5).
Jika pelatih Arsenal Mikel Arteta menyebut Rice sebagai rekrutmen terpenting The Gunners yang membuktikan betapa seriusnya Arsenal mengubah diri menjadi terbaik di Liga Inggris, maka pelatih PSG Luis Enrique menyanjung Vitinha sebagai pemain istimewa di antara para pemain bagus yang dimilikinya.
Baik Rice maupun Vitinha adalah figur-figur sentral di balik sukses Arsenal dan Paris Saint Germain dalam dua musim terakhir.
Jika Vitinha mengantarkan PSG menjuarai Liga Champions tahun lalu, yang adalah pertama bagi klub Ligue 1 Prancis ini, maka Rice adalah figur menonjol di balik sukses besar Arsenal dalam mematahkan kutukan 22 tahun tak menjuarai Liga Premier.
Namun, masa kedua pemain dalam memberi dampak positif besar kepada timnya, tidaklah sama.
Kalau Vitinha mesti sabar menunggu untuk membawa dampak besar kepada PSG sampai superstar Neymar dan Lionel Messi hengkang dari PSG (ditambah Kylian Mbappe setahun kemudian), maka Rice langsung mengubah diri menjadi imbuhan vital bagi batalyon tempur Mikel Arteta yang merajai Liga Inggris musim ini.
Keduanya sama-sama berhasil memutar bandul peruntungan berayun ke arah tim mereka.
Walau sukses tim bukan semata karena andil mereka, keberadaan Rice di Arsenal dan Vitinha di PSG membuat apa yang sebelumnya sulit dicapai menjadi lebih mudah untuk direngkuh.
Jika Rice berandil besar dalam membawa Arsenal ke final Liga Champions pertama The Gunners sejak klub ini berdiri, maka Vitinha berperan besar dalam membawa PSG menjuarai Liga Champions pertamanya pada 2025.
Rice juga anggota skuad The Gunners yang membawa Arsenal mencapai semifinal Liga Champions kedua sepanjang masa klub ini pada 2025 ketika kalah dalam semifinal melawan PSG.
Begitu pula dengan Vitinha, yang dua kali berturut-turut membawa PSG mencapai final Liga Champions, setelah tahun lalu memimpin Les Parisiens mengalahkan Inter Milan dengan skor mengerikan 5-0.
Serba bisa
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·