Emosi Politik Dirasakan Berbeda Dibanding Emosi Sehari-hari

Sedang Trending 1 jam yang lalu

EMOSI adalah penting bagi politik, dan tubuh adalah penting bagi pengalaman emosional. Tapi, belum banyak diketahui tentang bagaimana emosi akibat politik dirasakan dan mempengaruhi tubuh kita.

Sebuah hasil studi yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, 11 Mei 2026, menduga emosi karena politik bukan hanya buah pikiran yang abstrak, tapi pengalaman yang bisa dirasakan secara spesifik pada fisik.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Riset itu menyediakan bukti kalau orang-orang merasakan emosi politis berbeda dalam tubuhnya dibandingkan emosi sehari-hari. Sensasi fisik ini bahkan bisa memprediksi apakah seseorang akan benar-benar berpartisipasi dalam aksi-aksi politik seperti memberikan hak suara atau berdemonstrasi.

Sebelumnya, seperti dikutip dari artikel di psypost.org 22 Mei 2026, para ilmuwan menyadari kalau emosi mendorong keterikatan politik dan perpecahan publik. Emosi politik lalu diukur dengan cara menanyai orang-orang dan membuat peringkat atas perasaan mereka menggunakan skala numerik yang sederhana. Pendekatan ini memperlakukan emosi sebagai kondisi yang terpisah dari kejiwaan.

Dalam riset yang ini, para penelitinya berpendapat bahwa sensasi fisik membentuk inti dari setiap pengalaman emosional. Ketika orang-orang merasakan sebuah emosi, mereka mengalami kondisi interoseptif, yang adalah persepsi otak atas sinyal dari dalam tubuh. Misalnya, jantung yang berdegup atau perut yang melilit.

Para peneliti tersebut ingin memetakan rasa fisik dari kemarahan, kekesalan, atau harapan atas kondisi politik yang dirasakan dalam tubuh manusia.

Mereka kemudian menelitinya pada 992 partisipan dewasa dari Amerika Serikat yang dikelompokkan berdasarkan umur, gender, ras, afiliasi partai politik. Umur median dari para partisipan itu adalah 46 tahun, dan separonya adalah perempuan.

Penelitian ini dipimpin Andrea Vik, mahasiswa post-doktoral di Centre for the Politics of Feeling, Royal Holloway and the School of Advanced Study, University of London. Vik dan timnya menggunakan teknik pemetaan digital yang disebut emBODY untuk mengukur reaksi-reaksi fisik.

Selama eksperimen, partisipan melihat siluet digital dari tubuh manusia dan menggunakan sebuah alat pewarnaan untuk menunjukkan secara tepat di mana dia merasakan sensasi fisik. Mereka mewarnainya merah untuk menunjukkan aktivasi yang meningkat, seperti merasa hangat atau tegang. Mereka mewarnai biru untuk menunjukkan aktivasi yang menurun, seperti mati rasa atau beratnya beban fisik.

Pertama, para partisipan diminta melengkapi pemetaan setiap harinya untuk emosi nonpolitis yang mencakup marah, cemas, depresi, kesal, dan harapan. Belakangan partisipan juga diminta memetakan yang persis sama untuk versi emosi yang politis.

Untuk emosi politik, partisipan diminta memilih satu isu kontemporer dari daftar yang ada yang secara personal membuat mereka merasakan emosi tertentu. Mereka juga diminta membuat ranking seluruh intensitas dari respons emosional mereka pada skala 0 sampai 100.

Peta tubuh yang dihasilkan mengungkap bahwa menambahkan sebuah konteks politik ke sebuah emosi mengubah bagaimana emosi itu dirasakan secara fisik. Sebagai misal, depresi sehari-hari cenderung menyebabkan sensasi mati rasa atau berkurangnya aktivasi lengan dan kaki. Tapi depresi karena isu politik, secara kontras, menunjukkan pola yang jauh meluas dari aktivasi fisik di seluruh tubuh.

Kekesalan karena politik juga memproduksi peta fisik yang benar-benar berbeda dibandingkan dengan kekesalan harian umumnya. Kesal sehari-hari, seperti reaksi fisik alami kepada tumpahan makanan, cenderung sangat dirasakan dalam perut dan kerongkongan. Ketika para partisipan memetakan kekesalan karena politik, sensasi fisik yang terpetakan sangat mirip dengan kemarahan, dengan aktivasi tinggi terkonsentrasi dalam kepala dan badan bagian atas.

"Saya sangat terkejut dengan besarnya konteks politik mengubah bagaimana emosi dirasakan tubuh (embodied)," kata Vik di Psypost. Dia terutama merujuk bagaimana kekesalan berubah menjadi sesuatu yang lebih dekat ke murka moral. 

"Perubahan ini sangat besar, saya kira, karena dugaannya adalah konteks politik tidak hanya mengintensifkan atau melemahkan emosi Anda. Dia dapat secara fundamental mentransformasi pengalaman emosional apa yang sedang Anda alami," tuturnya.

Emosi politik lain menunjukkan perubahan yang lebih halus atau umumnya tetap sama dengan yang sehari-hari. Harapan politis, malahan, membangkitkan aktivasi fisik yang lebih lemah daripada harapan yang ada sehari-hari. "Kemungkinan karena harapan politis bercampur dengan perasaan bermusuhan terhadap lawan politik," kata Vik.

Rasa cemas politik umumnya sama dengan yang sehari-hari tapi memberikan sensasi lebih sedikit dalam perut, dan sedikit lebih banyak ke kejiwaan. 

Sementara studi menyediakan bukti bagaimana kita merasakan politik secara fisik, Vik dkk mengakui batasan dalam hasil yang didapat. Riset disebutkan bergantung kepada desain cross-sectional, yang berarti data yang dikumpulkan berasal dari satu waktu yang tertentu.

Karenanya, hasil ini tidak dapat secara definitif membuktikan bahwa sensasi fisik dari sebuah emosi politik berdampak langsung ke aksi atau partisipasi politik. Tapi, yang jelas, aksi politik itu terkait erat kepada seberapa kuat emosi-emosi ini dirasakan oleh tubuh.

"Temuan kami menggarisbawahi peran sentral tubuh dalam kehidupan berdemokrasi dengan menunjukkan bagaimana konteks politik membentuk pengalaman fisik emosional dan bagaimana pengalaman fisik tersebut membentuk politik dan demokrasi," kata Vik dkk dalam makalah hasil studinya.