Ekonom Perdebatkan Penilaian Fundamental Rupiah di Tengah Tekanan Global

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Gubernur Bank Indonesia dan sejumlah ekonom memberikan penilaian berbeda mengenai posisi nilai tukar rupiah yang dianggap berada di bawah nilai fundamentalnya pada Kamis (23/4/2026). Perdebatan ini muncul seiring pelemahan nilai nominal rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 17.300 per dollar AS.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Wajiyo, menegaskan bahwa performa ekonomi domestik yang tetap kuat menjadi alasan utama di balik penilaian fundamental tersebut. Ia menyoroti bahwa faktor eksternal menjadi pemicu utama tekanan terhadap mata uang garuda belakangan ini.

"Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental," ujar Perry Wajiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Perry menjelaskan lebih lanjut bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama melibatkan Iran, telah memicu lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut memperkuat posisi dollar AS dan meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, yang berdampak pada arus modal keluar dari pasar negara berkembang.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memberikan dukungan terhadap argumen tersebut dengan merujuk pada indikator Real Effective Exchange Rate (REER). Berdasarkan data yang dilansir dari Money, indeks REER terus mengalami penurunan sejak akhir tahun 2025.

"Menurut saya, pernyataan bahwa rupiah sedang undervalued itu ada dasarnya jika dilihat dari nilai tukar riil efektif (REER), bukan hanya dari angka rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di layar," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank.

Penurunan indeks REER tercatat cukup signifikan dari level 94,1 pada Desember 2025 menjadi 91,2 pada Februari 2026. Posisi ini berada di bawah ambang batas nilai wajar 100, mencerminkan nilai tukar riil yang murah terhadap mata uang mitra dagang utama Indonesia.

"Jadi dalam ukuran riil rupiah memang terlihat undervalued (REER di bawah 100). Namun murah tidak berarti otomatis akan segera balik menguat, karena mata uang bisa tetap murah cukup lama kalau premi risiko masih tinggi dan pasar masih gelisah," ungkap Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank.

Sebaliknya, Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, meragukan label undervalued dalam situasi pasar saat ini. Ia berpendapat bahwa tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik untuk kebutuhan pembayaran dividen dan aliran dana jangka pendek menjadi beban nyata bagi rupiah.

"Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat pergerakan rupiah untuk saat ini belum bisa dikatakan undervalue," ucap Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia.

Myrdal juga memperingatkan potensi penyempitan surplus perdagangan akibat naiknya biaya impor energi. Ia menilai penilaian nilai fundamental akan sulit dipertahankan jika cadangan devisa terus terkuras hanya demi langkah stabilisasi tanpa dukungan fundamental neraca transaksi berjalan yang sehat.

"Jadi kalau kondisinya sekarang di saat terjadi di posisi hot moneynya itu masih hot flow dan trade surplusnya juga tergerus, saya rasa sih sudah bukan statement yang tepat kalau dibilang rupiah kita masih undervalue," jelas Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia.

Kebutuhan valas yang mencapai puncaknya di tengah ketidakpastian arus modal keluar menjadi tantangan besar bagi otoritas moneter. Myrdal menekankan bahwa kondisi fundamental saat ini menunjukkan tekanan yang sangat tinggi pada permintaan dollar AS.

"Kecuali memang cadangan devisa kita mau dikerahkan semuanya hanya untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Tapi secara fundamentalnya kita lihat permintaan valas sekarang sedang tinggi-tingginya," sambung Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia.