Bukan Doom Spending, Kelas Menengah Memilih Rem Belanja Demi Tabungan

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Fenomena doom spending atau belanja impulsif akibat kecemasan terhadap masa depan disebut semakin marak di kalangan generasi muda. Namun, kecemasan ekonomi tidak selalu berujung pada perilaku konsumtif. Sejumlah pekerja kelas menengah justru memilih menahan belanja dan memperkuat tabungan karena khawatir terhadap kondisi ekonomi serta pasar kerja ke depan.

Kekhawatiran itu dipicu maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK), kenaikan biaya hidup, dan ketidakpastian prospek pekerjaan dalam beberapa tahun mendatang.

Aziza (26), pekerja swasta di Jakarta, mengaku kurang optimistis melihat kondisi ekonomi dan pasar kerja dalam satu hingga dua tahun ke depan. Menurut dia, gelombang PHK di berbagai sektor membuat rasa aman pekerja semakin menurun.

"Semakin banyak sekali PHK terjadi di mana-mana. Tidak hanya itu, kualitas pekerjaan ataupun benefit yang ditawarkan perusahaan juga tidak menjamin rasa aman kepada pekerja," ujar Aziza kepada Kompas.com, Rabu (17/6/2026). Aziza menilai banyak pekerjaan yang tersedia saat ini belum mampu menjamin kesejahteraan pekerja.

Sebab, upah yang ditawarkan tidak selalu sebanding dengan biaya hidup yang terus meningkat. Kondisi serupa dirasakan Deanda (30), pekerja swasta yang mulai cemas melihat kenaikan harga kebutuhan pokok. Kecemasan itu semakin besar karena pendapatan relatif tidak banyak berubah.

"Sebagai kelas menengah, saya melihatnya cukup suram. Harga kebutuhan semakin naik, sementara persaingan di pasar kerja juga semakin ketat," kata Deanda.

Ketidakpastian ekonomi bahkan memengaruhi keputusan pribadi dalam rumah tangga. "Ini sampai memengaruhi keputusan saya dan suami untuk menunda memiliki anak," ujar Deanda. Sementara itu, Abel (28), karyawan swasta, menilai kondisi ekonomi saat ini belum memberi banyak ruang bagi pekerja untuk meningkatkan kesejahteraan.

"Semua harga pada naik, tapi kenaikan gaji hampir enggak pernah saya rasakan. Agak kurang optimistis dengan kondisi ekonomi ke depan," kata Abel.

Pilih Menabung Ketimbang Belanja

Meski doom spending identik dengan perilaku konsumtif akibat kecemasan terhadap masa depan, ketiganya menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Aziza mengaku rutin menyisihkan sekitar 40 persen pendapatannya untuk ditabung setiap bulan.

Menurut dia, kondisi ekonomi yang tidak menentu membuatnya lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan. "Saya memilih menabung karena kondisi perekonomian yang sangat tidak menentu ditambah pasar kerja yang kritis membuat saya tidak percaya diri untuk mengeluarkan uang lebih dari budget bulanan yang sudah saya tetapkan," ujar Aziza.

Deanda juga memilih menyimpan bonus atau pendapatan tambahan dalam bentuk tabungan dan emas. Ia menilai emas lebih aman karena tidak mudah dicairkan untuk konsumsi harian. "Kami (dengan suami) prefer ke emas karena masih melihat emas sebagai safe haven dan tidak bisa langsung dibelanjakan, jadi uang tidak cepat habis," kata Deanda.

Abel juga berusaha menyisihkan sekitar seperempat gajinya untuk ditabung.

Upaya itu tetap dilakukan meski sebagian besar pendapatannya habis untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya tempat tinggal. "Pengen buat nabung dan investasi sih. Soalnya saya sadar tidak ada yang bisa nolongin saya ketika situasi ekonomi memburuk," ujar Abel.

Stimulus Belum Terasa

Aziza mengatakan, bantuan yang paling terasa hanya diskon tarif listrik yang sempat diberikan pemerintah.

Selain itu, ia tidak merasakan dampak signifikan dari program stimulus yang diluncurkan pemerintah. "Sejauh ini stimulus pemerintah yang benar terasa oleh kaum menengah hanya stimulus listrik tahun lalu," kata Aziza.

Deanda juga mengaku belum merasakan manfaat langsung dari stimulus pemerintah. "Enggak ada efeknya ke saya," ujar Deanda.

Senada, Abel menilai pekerja kelas menengah belum menjadi sasaran utama program bantuan pemerintah. Padahal, kelompok ini kerap disebut sebagai bantalan ekonomi. "Kelas pekerja itu masuk kelas menengah yang katanya jadi bantalan ekonomi. Tapi tidak ada stimulus spesifik yang diberikan untuk kelas menengah," kata Abel.