PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memperkuat strategi ekspansi kredit berbasis Rupiah guna mengantisipasi volatilitas nilai tukar yang menembus level Rp17.500 per dolar AS pada Kamis (14/5/2026). Langkah ini diambil seiring kebijakan Bank Indonesia yang sempat menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) ke posisi 6,5 persen.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, bank plat merah ini mengarahkan fokus penyaluran kredit pada sektor-sektor yang dinilai tahan terhadap fluktuasi mata uang. Sektor tersebut mencakup pelaku usaha retail, UMKM, serta berbagai program prioritas yang dicanangkan pemerintah demi menjaga stabilitas bisnis perusahaan.
Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, menjelaskan bahwa pihak manajemen terus memantau dinamika pasar global dan domestik secara ketat. Penyesuaian strategi dilakukan untuk memastikan ketersediaan likuiditas tetap berada pada level yang aman dan terjaga secara hati-hati.
"Bank Mandiri mencermati dinamika pasar yang ada, termasuk volatilitas nilai tukar dan kenaikan imbal hasil SRBI. Menyikapi hal tersebut, Bank Mandiri terus berupaya menjaga strategi bisnis dan likuiditas secara prudent," kata Adhika Vista, Corporate Secretary Bank Mandiri.
Selain fokus pada domestik, Bank Mandiri juga menerapkan seleksi ketat dalam penyaluran kredit valuta asing. Fokus diberikan kepada debitur yang memiliki pendapatan dalam mata uang asing atau mempunyai mekanisme perlindungan nilai alami guna meminimalisir risiko kegagalan bayar akibat selisih kurs.
"Di sisi lain, dinamika pasar juga membuka peluang peningkatan fee-based income melalui aktivitas treasury, transaksi FX nasabah, dan solusi hedging," kata Adhika Vista, Corporate Secretary Bank Mandiri.
Untuk meredam potensi kenaikan biaya dana akibat kompetisi likuiditas dari instrumen SRBI, Bank Mandiri mengoptimalkan penghimpunan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Strategi ini melibatkan optimalisasi pengelolaan gaji karyawan serta dana operasional dari nasabah korporasi besar.
Upaya penguatan basis dana transaksional juga dilakukan melalui perluasan ekosistem layanan digital dan manajemen kas. Kerja sama dengan berbagai institusi dan platform teknologi menjadi kunci untuk mempertahankan stabilitas pendanaan jangka panjang.
"Melalui langkah-langkah tersebut, likuiditas dan stabilitas pendanaan diharapkan dapat terus terjaga solid, sekaligus mendukung pertumbuhan kredit yang sehat di tengah dinamika pasar," kata Adhika Vista, Corporate Secretary Bank Mandiri.
Kondisi pasar Non-Deliverable Forward (NDF) pada 14 Mei 2026 menunjukkan pergerakan rupiah yang masih defensif di kisaran Rp17.500 per dolar AS. Rupiah di pasar luar negeri tercatat sempat menguat tipis 0,07 persen ke posisi Rp17.506 per dolar AS setelah dibuka pada level Rp17.513 per dolar AS.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·