Pernah enggak sih kalian saat sedang merasa sedih atau kecewa karena suatu masalah, terus pas cerita ke teman kita ataupun orang terdekat kita malah mendengar kalimat “jangan sedih terus”, “harus tetap positive thinking”, atau “semua ada hikmahnya”? Saat ini, media sosial dipenuhi oleh berbagai konten ataupun postingan tentang healing, self-love, dan positive vibes.
Akhirnya banyak orang mulai berlomba-lomba mengikuti tren tersebut agar dapat terlihat tenang, kuat, dan selalu bahagia. Namun, tanpa disadari, kita jadi terbiasa untuk menolak atau menekan emosi negatif seperti sedih, marah, kecewa, dan lain-lain yang justru bisa jadi masalah. Ternyata masalah seperti ini berkaitan dengan fenomena psikologis loh yang disebut dengan spiritual bypass.
Sebenarnya spiritual bypass itu apa sih? Menurut John Welwood, spiritual bypass merupakan kecenderungan seseorang yang menggunakan spiritualitas atau pemikiran positif untuk menghindari luka emosional dan masalah psikologis yang masih belum selesai. Jadi, walaupun di luar seseorang terlihat “baik-baik saja”, tetapi dalamnya belum benar-benar memproses rasa sedih, marah, kecewa, atau emosi negatif lainnya.
Gimana sih cara kita tahu kalau kita mengalami spiritual bypass? Menurut Robert Augustus Masters dalam bukunya Spiritual Bypassing: When Spirituality Disconnects Us from What Really Matters, menyebutkan bahwa salah satu tanda utamanya adalah adanya kebiasaan untuk menolak sisi “negatif” dalam diri kita. Nah, sebenarnya gimana sih bentuk spiritual bypass dalam kehidupan sehari-hari? Yuk kita cari tahu!
Apakah Kita Harus Selalu Berpikir Positif?
Salah satu ciri spiritual bypass adalah ketika seseorang merasa harus selalu berpikir positif dalam setiap keadaan. Akhirnya banyak orang yang memaksakan dirinya agar terlihat kuat dan tenang walaupun sebenarnya sedang terluka secara emosional. Misalnya, saat seseorang merasa sedih, ia akan langsung berkata pada dirinya sendiri bahwa ia tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan karena harus bersyukur.
Padahal, menurut Robert, emosi sebenarnya tidak bisa dibagi menjadi emosi “positif” atau “negatif” begitu saja. Emosi seperti sedih, marah ataupun kecewa tetap merupakan bagian alami dari manusia yang bisa membantunya untuk memahami dirinya sendiri dan juga mengetahui batasan dirinya. Jadi masalahnya bukan pada emosinya, tetapi bagaimana seseorang bisa mengekspresikan dan juga memproses emosi tersebut.
Apakah Menghindari Kesedihan Membuat Kita Lebih Tenang?
Jawabannya adalah tidak selalu. Banyak orang menggunakan teknik spiritual bypass seperti menggunakan kata-kata motivasi atau spiritual agar bisa menghindari rasa sakit emosional yang sebenarnya belum selesai. Menurut bukunya Robert, spiritual bypass ini bisa membuat seseorang menjauh dari rasa sakit emosionalnya dan memilih untuk menenangkan diri secara instan dibandingkan dengan memahami sumber dari lukanya itu.
Misalnya, seseorang memilih untuk memaksakan dirinya sendiri cepat healing, pura-pura baik-baik saja, atau terus mengatakan “aku gapapa” walaupun sebenarnya sedang merasakan lelah, sedih ataupun kecewa. Akibatnya emosi tersebut tidak benar-benar menghilang tetapi hanya dipendam.
Apakah Semua Emosi Negatif Itu Buruk?
Banyak orang menganggap emosi negatif itu harus segera dihilangkan. Padahal, rasa marah, sedih, takut, bahkan kecewa sebenarnya dapat membantu untuk memahami diri sendiri. Dalam suatu penelitian salah satu bentuk spiritual bypass adalah anger-phobia, yaitu dengan menganggap kemarahan sebagai emosi yang buruk atau tidak pantas untuk dimiliki. Robert juga menjelaskan bahwa dengan kita menjauhi emosi negatif justru membuat kita kehilangan kedekatan dengan diri kita sendiri.
Misalnya, rasa marah dapat membantu kita memahami bahwa kita sedang diperlakukan secara tidak adil. Rasa sedih juga bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang kehilangan sesuatu yang penting dalam hidupnya. Karena itu dengan kita menjauhi atau menolak semua emosi negatif bukan berarti bisa membuat seseorang lebih sehat secara mental.
Nah, jadi itulah penjelasan tentang spiritual bypass. Menjadi positif memang baik, tetapi bukan berarti kita harus menolak semua emosi negatif yang kita rasakan. Terkadang, proses healing yang sebenarnya itu dimulai ketika kita berani untuk menerima rasa sedih, kecewa, marah, dan takut sebagai bagian alami dari diri kita sendiri.
___
Ditulis Oleh: Nadia Indriani Syahtiar dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·