Implementasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai memberikan tekanan signifikan bagi stabilitas ekonomi para pekerja di berbagai sektor industri.
Fenomena ini membawa risiko jangka panjang, di mana mereka yang kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi berpotensi menghadapi penurunan kesejahteraan yang berlangsung lama.
Dilansir dari Tekno, hasil analisis dari perusahaan perbankan Goldman Sachs menunjukkan bahwa pekerja yang posisinya digantikan oleh AI terancam mengalami penyusutan penghasilan hingga sepuluh tahun.
Berdasarkan catatan sejarah perkembangan teknologi, para pekerja yang tersingkir biasanya mengalami pemotongan upah rata-rata sekitar 3 persen saat mereka kembali bekerja.
Namun, tantangan yang muncul saat ini tidak hanya terbatas pada nominal gaji, tetapi juga mencakup sulitnya mendapatkan posisi baru dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan.
Kondisi ini secara otomatis meningkatkan risiko terjadinya pengangguran berkepanjangan bagi individu yang terdampak disrupsi teknologi tersebut.
Goldman Sachs melakukan kajian mendalam terhadap data pasar tenaga kerja selama 40 tahun terakhir untuk memahami pola perubahan ini.
Para analis menemukan bahwa beban dampak teknologi ini harus ditanggung oleh pekerja dalam jangka waktu bertahun-tahun setelah kehilangan pekerjaan pertama mereka.
"Analisis kami menunjukkan bahwa, mirip dengan gelombang perubahan teknologi sebelumnya, penggantian oleh AI dapat menimbulkan biaya jangka panjang bagi pekerja yang terdampak, memperburuk hasil pasar tenaga kerja selama beberapa tahun. Dampak ini bisa jauh lebih besar ketika penggantian itu bertepatan dengan resesi," tulis para analis Goldman Sachs.
Penelitian yang melibatkan data 20.000 pekerja sejak tahun 1980 ini menyimpulkan bahwa pendapatan riil korban disrupsi teknologi turun 3 persen dibanding pekerja di sektor stabil.
Dalam satu dekade setelah kehilangan pekerjaan, pertumbuhan pendapatan riil mereka rata-rata 10 poin persentase lebih rendah dibandingkan rekan mereka yang tidak pernah terkena PHK.
Penurunan Kualitas dan Ketersediaan Lapangan Kerja
Selain masalah pendapatan, pekerja yang terkena dampak AI membutuhkan waktu rata-rata satu bulan lebih lama untuk kembali mendapatkan pekerjaan.
Kualitas pekerjaan yang didapatkan setelahnya juga cenderung menurun, di mana banyak pekerja beralih ke peran yang membutuhkan lebih sedikit kemampuan analitis dan interpersonal.
Hal ini terjadi karena fungsi-fungsi yang sebelumnya mereka kuasai kini telah diambil alih secara penuh oleh sistem otomatisasi.
Mengutip data dari Business Insider, efisiensi yang dikejar perusahaan melalui AI berujung pada perlambatan pertumbuhan lapangan kerja baru hingga 16.000 posisi per bulan dalam setahun terakhir.
Untuk pasar kerja di Amerika Serikat, Goldman Sachs memproyeksikan AI berpotensi menggantikan hingga 7 persen dari total tenaga kerja dalam kurun waktu 10 tahun mendatang.
Langkah Mitigasi Melalui Pelatihan Ulang
Meskipun proyeksi ekonomi terlihat menantang, program pelatihan ulang atau reskilling menjadi solusi kunci untuk menekan dampak negatif tersebut.
Data menunjukkan bahwa pekerja yang mengambil program pelatihan ulang setelah kehilangan pekerjaan akibat teknologi mencatat kenaikan pertumbuhan upah riil kumulatif sebesar 2 poin persentase.
Selain peningkatan upah, langkah proaktif ini juga efektif mengurangi risiko pengangguran jangka panjang hingga sekitar 10 poin persentase bagi para pekerja.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·