Ahli Selidiki Penularan Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Pakar kesehatan global tengah menyelidiki pola penularan hantavirus yang menyebabkan tiga orang meninggal dunia di atas kapal pesiar MV Hondius saat berlayar dari Argentina menuju Tanjung Verde. Hingga Selasa, 5 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan wabah ini telah menginfeksi sejumlah kru dan penumpang lainnya.

Data medis menunjukkan bahwa korban tewas meliputi pasangan suami istri serta seorang warga negara Jerman. Selain itu, seorang pria asal Inggris berusia 69 tahun kini berada dalam kondisi kritis namun stabil di sebuah rumah sakit di Johannesburg, Afrika Selatan, setelah dievakuasi dari kapal tersebut.

Peneliti kesehatan global Southampton University, Dr. Michael Head, memberikan pandangannya mengenai ketidaklaziman lokasi penyebaran virus ini dibandingkan dengan penyakit menular lainnya yang biasa ditemukan di transportasi laut.

"Ketika mendengar tentang wabah di kapal pesiar, kita cenderung memikirkan penyakit lain seperti Covid-19 atau norovirus. Hantavirus jarang dikaitkan dengan lingkungan semacam ini, dan penyebaran virus dari manusia ke manusia juga tidak biasa," sebut Dr. Michael Head.

Ia juga menambahkan bahwa asal pelayaran kapal dari Amerika Selatan memperkuat dugaan keterlibatan varian tertentu dari virus tersebut dalam insiden tragis ini.

"Mengingat kapal tersebut berasal dari Amerika Selatan, masuk akal jika varian virus Andes menjadi penyebab wabah ini. Sebelumnya pernah ada laporan mengenai penularan dari manusia ke manusia dari varian Andes, meskipun belum dapat dipastikan apakah itu yang terjadi dalam kasus ini," cetus Dr. Michael Head.

Hantavirus umumnya menyerang manusia melalui partikel dari kotoran hewan pengerat yang terhirup. Dr. Liam Brierley dari MRC-University of Glasgow Centre for Virus Research menjelaskan mekanisme infeksi yang biasanya terjadi.

"Hantavirus ditularkan ka manusia ketika mereka menghirup virus dalam bentuk aerosol yang menguar dari kotoran hewan pengerat," sebut Dr. Liam Brierley.

Brierley menekankan bahwa transmisi antarmanusia adalah fenomena yang sangat langka dan hanya terbatas pada varian spesifik dengan kontak fisik yang sangat erat.

"Hantavirus tak menular dari orang ke orang kecuali dalam keadaan sangat langka dan hanya untuk satu jenis hantavirus spesifik yang disebut virus Andes, di bawah kontak jarak dekat sangat intensif, seperti antara pasangan seks atau dari pasien ke staf rumah sakit. Karena itu, sangat mungkin kasus ini akibat dari satu titik paparan yang sama terhadap hewan pengerat," imbuh Dr. Liam Brierley.

Meskipun tingkat kematian Sindrom Paru Hantavirus (HPS) bisa mencapai 38%, Direktur Regional WHO Eropa, Dr. Hans Henri Kluge, menyatakan bahwa risiko bagi masyarakat luas masih terkategori rendah.

"Infeksi Hantavirus tak umum terjadi dan biasanya dikaitkan paparan hewan pengerat terinfeksi. Walau parah pada beberapa kasus, virus ini tak mudah menular antarmanusia. Risiko terhadap masyarakat luas tetap rendah. Tidak perlu panik atau melakukan pembatasan perjalanan," cetus Dr. Hans Henri Kluge sebagaimana dilansir dari Mirror.

Pakar penyakit dari Cambridge University, Dr. Charlotte Hammer, mengutarakan kemungkinan adanya hewan pengerat yang ikut terbawa di dalam kapal sebagai sumber infeksi utama.

"Bukan hal yang sepenuhnya aneh jika hewan pengerat menumpang di kapal, itu salah satu kemungkinannya. Orang yang sudah terinfeksi ketika kapal terakhir kali sandar di pelabuhan Argentina adalah kemungkinan lain, mengingat inkubasi bisa mencapai delapan minggu," ujar Dr. Charlotte Hammer.

Senada dengan hal tersebut, Prof. Paul Hunter dari University of East Anglia menilai masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan pasti mengenai moda penularan dalam kasus MV Hondius.

"Ada beberapa dugaan penyebaran dari manusia ke manusia dapat terjadi tapi masih belum ada kesepakatan dan bukti belum terkonfirmasi. Jika pun penyebaran manusia ke manusia terjadi, itu sangat langka. Terlalu dini berspekulasi mengenai bagaimana korban bisa terinfeksi, tapi sangat kecil kemungkinan wabah ini menyebabkan peningkatan risiko di Inggris atau di tempat lain di Eropa," ujar Prof. Paul Hunter.